PINOCCHIO
.
.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Fantasy
.
Main Cast: -Min Yoongi /Suga
-Park Jimin
-Kim Seokjin
-Cha Hakyeon
-Jung Taekwoon
.
‘Tentang si pinokio Suga yang bersin tiap kali berbohong dan Jimin yang
merasa mengidap syndrome alice in wonderland sejak bertemu suga. Syndrome yang
membuatnya merasa bahwa ia sedang ada di dunia dongeng.’
.
Chapter 2: MIN SUGA :D
.
“Jimin.. a-apa yang kau.. lakukan…?” Jimin memejamkan matanya
erat saat mendengar desisan tak percaya dari ibunya. ‘Baiklah ibu. Ini
waktunya.’ Batin jimin sambil perlahan membuka matanya bersiap menerima setiap
kata caci maki dari ibunya yang cerewet tersebut. “dengan sebuah BONEKA??!”
Sentak hakyeon sambil memandang ngeri anak sematawayangnya. Ia tak menyangka
bahwa kesendirian anaknya yang memang belum pernah berpacaran karena selalu
ditolak oleh jeon jungkook tersebut menjadi suatu beban pikiran. Mungkin jimin
sudah gila hingga mungkin berniat meng’hangati’ sebuah boneka pinokio manis
dari kayu tersebut.
Dengan gaya slow
motion hakyeon memandang mata jimin miris. Tangannya terulur untuk mengelus
surai hitam kelam milik jimin, tanpa memperdulikan jimin yang hanya melongo sambil
memasang wajah bingung. “Ckck, maafkan ibu nak. Ibu selama ini tidak
memperdulikanmu dan hanya terus memarahimu jimin.” ujarnya sambil mentikkan
airmata kemudian lari-lari cantik keluar dari ruangan ini. Meninggalkan jimin
yang masih bingung dengan perlakuan ibunya.
“Ibu kenapa sih? -_- Kenapa ia mengira aku melakukan hal aneh
dengan- T-tunggu. Boneka?” ditengoknya pinokio di sebelahnya. Masih berwujud
manusia. Kenapa hakyeon berpikir itu boneka? Ya mungkin itu masih menjadi
misteri. Hanya pinokio dan tuhan yang tau. “Kau pasti bingung kan kenapa pria
cantik itu mengira aku boneka? Aku memang sengaja berubah menjadi boneka saat
dia datang. Agar dia tidak marah-marah lagi padamu. Hehe.” Ucapnya dengan wajah
bangga –lagi-. Jimin menganggukkan kepalanya mengerti. Entah kenapa kali ini ia
jadi lebih percaya pada sosok asing di hadapannya yang bernama,, Ah itu dia!
Jimin bahkan tidak tau namanya. “Hey,
Kau. Boleh aku tau siapa namamu?” tanya jimin. “Aku.. tidak punya nama. Hanya
saja dulu ada yang memanggilku pinokio jadi aku pikir itu namaku.” Jawabnya
polos. “Jadi kau tidak punya nama ya?” Jimin menatap sebuah kalung yang
terpatri di leher putih pinokio tersebut. Tanda Minus. “Ah! Aku pikir aku punya
nama yang cocok untukmu. Karena liontin ini bertanda minus dan wajahmu yang
manis. Aku akan memberimu nama Min Suga. Bukankah itu manis? Cocok denganmu.
Suga manis. Like a sugar.” Ujar jimin. Tangannya memasang pose ceklis di bawah
dagu. “Benarkah?? Jadi sekarang aku punya nama resmi? Suga? Namaku Suga?” Tanya
Suga, si pemilik nama baru yang resmi -_-. “Ya. Suga. Jadi mari kita
berkenalan. Anyeonghaseo. Namaku Park Jimin. Jimin.” ujar jimin sembari
mengulurkan tangannya. “Min Suga! Suga!” dengan semangat suga membalas uluran
tangan jimin. “Kkkk~ Baiklah Min Suga. Sekarang sudah larut malam. Waktunya
tidur.” Ucap jimin sedikit terkikik. Ia kemudian menarik kembali selimutnya dan
memejamkan matanya.
-Pinocchio-
Jimin hampir saja membenturkan kepalanya ke tembok di sebelah
tempat duduknya saat matanya menangkap suga berdiri di depan kelasnya dengan
seragam sekolah lengkap. “Anyeonghaseo, Min Suga imnida. Bangapta.” Salam suga
sambil membungkukkan badannya ke arah barisan para murid yang duduk rapih di
hadapannya. Semua orang nampaknya terpaku dengan kemanisan dan keimutan suga.
Ya semua orang kecuali jimin yang justru memandang ngeri sosok suga yang masih
tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya di depan sana. “Baik, Min
Suga kau bisa duduk di depan sana di sebelah Seok- Kim Seokjin kemana?” Boa seongsaenim memotong ucapannya saat
mendapati kursi di pojok depan kelas kosong. Brakk! “Saem maaf aku terlambat.
Ban mobilku sempat bocor jadi aku aku harus menaiki sepeda.” Pandangan seluruh
isi kelas beralih pada sosok pria bersurai coklat di ambang pintu kelas yang
nampak terengah-engah. Benar, seluruh isi kelas termasuk suga dan –lagi lagi-
kecuali jimin yang malas menanggapi teman baiknya tersebut. “Maafkan aku
seongsaenim.” Kim Seokjin –pria tersebut- mengulang kembali kata-katanya dan
mengangkat wajahnya. Tubuhnya membeku saat melihat suga yang menatapnya dengan
ekspresi polos. Seokjin memegang kepalanya. Rasa pusing yang amat sangat
menerjang kepalanya saat role memory di otaknya terputar kembali. Ditatapnya
kembali mata berwarna hazel milik suga. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk
memastikan. Apakah dia adalah- “Yoon..gi?” -kekasihnya yang pernah ia,, bunuh.
-Pinocchio-
“Suga! Min Suga!” teriak jimin sambil menengok ke luar kelas
mencari-cari dimana sosok mungil suga berada. “Suga! Shit dimana bocah itu?
Kenapa dia pergi begitu saja? Padahal aku belum bertanya bagaimana ia bisa
masuk ke sekolah ini. Hah, apa dia memang sasaeng fans ku? Dasar penguntit. Ck.”
Ucapnya kesal kemudian melajukan langkah kaki-kaki setengah jenjang miliknya
/:v/ ke arah penjuru barat sekolah. “Suga!” teriaknya lagi-lagi. Kali ini
matanya bisa menangkap sosok suga sedang terduduk di bangku kantin. Jimin
memegang lututnya sembari terengah-engah. “Jimin! Ada apa?” tanya suga dengan
wajah penasaran dan sangat semangat. “Yak! Kau ini kenapa keluar begitu saja?
Apa kau sen.. dengan seokjin hyung ya?” senyum jimin luntur ketika melihat
seokjin yang tiba-tiba datang membawa 2 gelas milkshake dan duduk di hadapan
suga. “Ah tidak jadi. Aku akan ke kelas duluan. Semoga makan siangmu
menyenangkan suga, seokjin hyung.” Ucap jimin dan dengan malas ia memaksakan
tubuhnya untuk berjalan kembali ke kelas.
Seokjin tersenyum kecil melihat tampang kesal jimin yang
menjauh. “Kau sudah mengenal jimin? bukankah tadi dia tidak berkenalan
denganmu?” seokjin memulai percakapan diantara keduanya. “Tentu aku
mengenalnya. Dia yang membantuku bebas dari raga pinokio itu.” Jawab suga.
“Pinokio? Apa maksudmu?” tanya seokjin bingung. “Aku dilahirkan sebagai sebuah
boneka pinokio. Aku bisa berubah menjadi sosok manusiaku seperti saat ini. Tapi
suatu saat ada sebuah berita buruk yang dibuat orang mengenai aku. Sehingga
dewa menghukumku dan menjadikanku tidak bisa bebas kecuali ada seseorang yang
berhasil aku ajak berkomunikasi. Akhirnya jimin menemukanku dan menolongku. Jadi
aku fikir aku harus berbaik hati padanya.” Jelas suga panjang lebar sambil
menggigiti sedotan hitam di hadapannya. “Benarkah? Kau sebuah boneka.. kayu?
Lalu kenapa kau menceritakan semuanya kepadaku? Apa kau mempercayaiku?” Seokjin
menatap suga yang mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis ke arah seokjin.
“Kau juga bukan manusia. Aku merasakan aromamu dari dekat dan itu seperti..
serigala?” jawab suga dengan sedikit ragu. “Atau rubah ya? Anjing mungkin? Aish
kenapa aku bisa tidak hafal bau-bau hewan!” lanjut suga dengan agak kesal
membuat seokjin tersenyum kecil. “Serigala? Ternyata penciumanmu cukup bagus.
Kau benar. Bisa aku bertanya berapa usiamu?” tanya seokjin sembari mengacak
surai caramel suga. “Sekitar 352.” Seokjin membelalakkan matanya mendengar
ucapan suga. ‘Apa dia memang reinkarnasinya? Yoongi meninggal 355 tahun yang
lalu.’ Batin seokjin mengingat berbagai
memori di otaknya tentang yoongi. Tentang bagaimana ia membunuh yoongi. Tentang
penyesalannya tentang hal tersebut. “Hm, begitukah? Kalau begitu aku lebih tua
darimu. Aku 410 tahun. Kau bisa memanggilku ‘hyung’. Oke?” seokjin membalas
ucapan suga dan kembali tersenyum. Mencoba menutupi segala sesuatu tentangnya.
-Pinocchio-
Jimin menengokkan kepalanya ke belakang saat merasa ada yang mengikutinya.
“Hh, ternyata dia lagi.” Ucap jimin malas saat mendapati suga berjalan di
belakangnya yang kini sedang berpura-pura menatap langit. “Benar-benar sasaeng
fan sejati.” Lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya dengan gaya –sok- keren
kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. /:v/. Ditengoknya kembali
suga yang masih sedia di belakangnya yang kini pura-pura menangkap nyamuk. “Ck
dia masih disana ya?” desis jimin. kakinya menendang-nendang kerikil di
depannya.
Tes. “Hujan?” Jimin mendongakkan kepalanya saat merasa
setetes air jatuh di atas hidungnya. “Ternyata benar-benar akan hujan.”
Ucapnya. Hujan semakin deras dan membasahi sebagian tubuh jimin. “Ck Hujannya
deras sekali.” Lirih jimin sembari berlari dan menjadikan tasnya sebagai pengganti
payung. Setelah beberapa langkah ia berhenti dan kembali menengok ke arah
belakang dimana suga justru terdiam disana. “Suga! Apa kau bodoh? Ayo pulang!
Kau bisa sakit nanti! Cepat!” bentak jimin. tangan kirinya menarik tangan kanan
suga. Keduanya berlari di bawah derasnya hujan dan udara dingin sore hari
seoul. ‘Ini sangat manis. Aku menyukai moment seperti ini. Kyaaa! Bisakah aku
berteriak sekarang?’ batin suga berteriak. Ia terus tersenyum. Matanya tidak
bisa lepas dari wajah jimin yang basah dengan air hujan. Terlihat sangat serius
dan.. um- ‘Sexy..’ –ya tentu saja jimin itu sexy. Walau tinggi badannya hanya 2
cm diatas suga yang berarti jimin itu juga pendek, /:v/ jimin tetaplah pria
paling sexy di sekolahnya. ‘Aku berharap suatu saat bisa menjadi manusia yang
sesungguhnya dan bisa berlarian di bawah hujan dengan orang aku cintai. Dan
mungkin akan lebih baik jika orang itu..’ batin suga dengan senyum khasnya.
“Jimin.” – “Ya?” Chuu~
-Pinocchio-
“Park Jimin! Ya tuhan.. Kau basah ku- Oh apa ini temanmu?”
ucapan khawatir hakyeon berubah menjadi
sebuah pertanyaan saat melihat sesosok pria mungil dengan kulit putih pucat,
bibir tipis, pipi chubby yang memerah,
mata hazel yang indah, dan surai berwarna caramel sedang berdiri di belakang
jimin dengan kedua tangan memeluk tubuhnya yang basah. “Ne ibu. Namanya Min
Suga. Dia akan menginap disini. Bolehkah?” jawab jimin. “Oh Tentu saja sayang~
Namanya suga kan? Mari masuk suga. Kau pasti kedinginan. Bibi akan menyiapkan
air hangat untuk kau gunakan mandi.” Ucap hakyeon sembari menarik suga untuk
memasuki rumah tersebut dan meninggalkan jimin yang kedinginan di ambang pintu. “Bagaimana bisa dia seramah itu
dengan si sasaeng fan sedangkan terus memarahiku karena hal-hal sepele. Wah aku
sepertinya harus bertanya apakah dia benar-benar ibuku.” Ujar jimin menutup
pintu dengan keras.
-Pinocchio-
Toktoktok! Jimin mendengus ketika mendengar irama ketukan-
atau gedoran lebih tepatnya –yang berasal dari pintu kamarnya. Cklik. “Suga?
Kenapa kau kesini?” jimin mengernyitkan dahinya melihat suga berdiri di ambang
pintu kamarnya terlebih lagi dengan pakaian bermodel kucing berwarna bulu putih
lengkap dengan telinga, kumis, dan.. ekor? Hell, Apa ibu jimin yang memberi
pakaian aneh seperti itu pada suga?-_- Kekanakan sekali. “Bibi En menyuruhku
tidur bersamamu. Hatchu~” Jawab suga melenggang masuk begitu saja. “Ah tidak
tidak! Aku sudah membersihkan kamar tamunya. Tidurlah disana. Aku akan bilang
pada Ibu.” Ujar jimin mencoba mengusir suga dari kamarnya. “Shireo! Suga mau
disini. Bibi bilang suga tidak boleh tidur disana karena masih kotor dan
suasananya seram. Ha-hatchu!” balas suga sambil memegangi hidungnya yang
bergetar karena bersin. “Tidak! Keluar sekarang!” bentak jimin. “Sekarang min
suga! Cepat atau-“ ucapan jimin terhenti ketika menatap mata hazel suga yang
berubah menjadi biru. “Kau.. mati.” Desis suga sambil mengangkat tangannya ke
arah jimin yang mematung kaget. “Ba-baiklah suga. Kau bisa tidur disini jika
kau mau.” Jimin dengan cepat sambil memundurkan badannya menghindari tangan
suga yang semakin dekat. Suga menghentikan pergerakan tangannya dan tersenyum
cerah. Matanya kembali berwarna hazel dan nampak teduh. “Terimakasih jimin.”
ujarnya.
“Hm, Suga.. bisa aku tau bagaimana kau mengubah warna mata
se-seperti itu?” tanya jimin ragu. Nampaknya jimin sedikit melupakan tentang
pertanyaannya yang tertunda tadi. “Karena aku bukan manusia.” Jawabnya tak acuh
dengan tangan yang menggapai langit-langit kaca di kamar jimin dan berusaha
menangkap sebuah bintang di atas sana. “Benar.. Kau memang pinokio. Baguslah.
Ya luar biasa sekali. Ah ya, bagaimana kau bisa bersama seokjin hyung tadi?”
wajah malas jimin berubah menjadi ekspresi penasaran saat mengingat suatu hal. Ck
-_- dia benar-benar lupa. “Ah itu, saat kau memanggil namaku 23 kali tadi
bukan?” tanya suga balik dengan tangan diacungkan ke atas. “Ya! Kalau memang
tau kenapa hanya diam dan berbicara dengan jin hyung huh?! Kau cari mati ya?!
Suaraku hampir hilang hanya untuk memanggil namamu saja.” Jimin membentak suga
yang hanya tertawa kecil tanpa menatapnya. “Haha, maaf. Tapi aku terlalu asik
dengan seokjin hyung. Dia seperti aku.” Balasnya. “Sepertimu? Jangan bilang
bahwa dia pinokio juga! Dia itu manusia normal dan sempurna.” Sentak jimin
menghalang suga untuk menjawab aneh-aneh. “Bukan. Dia bukan pinokio kayu
sepertiku.” Jimin menghela nafas lega mendengarnya sebelum kembali
mengernyitkan dahinya sembari menatap suga bingung saat suga bercerita bahwa..
“Seokjin hyung adalah serigala.” – “Huh?”
.
.
TBC :v
Elah
chapter 1 banyak yang baca kagak ada yang komen :v kampret sedih gue :”v
fufufu.*ngelap air mata* :’3 dying slowly :v eh jangan deh. *idup lagi* *nagih
komen sambil lempar jamban sebagai ganti konfeti* :3 Btw, yang ‘CHUUU~’ itu
adegan pas mereka kagak sengaja ciuman :v gara-gara jimin nengok ke samping pas
suga nyebut namanya. :v cie kiss kiss kiss cie :v gue ama seokjin kapan? :3
*dilempar barbell ama jin* :v
Walau
kalian Cuma baca tanpa meninggalkan secercah komen gakpapa lah :v chapter
selanjutnya ada jungkook oy :v :v :v :v :v :v Moga" di chapter ini dan selanjutnya kalian gak cuma baca doang :v komen juga dong :3
Sekian
terima nyai syuman :”3