No silent readers! No!

JANGAN JADI SILENT READER PLEASE :v TAU GAK RASANYA ITU SAKIT :"v

Kamis, 04 Juni 2015

[Chapter 2] Pinocchio

PINOCCHIO
.

.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Fantasy
.
Main Cast: -Min Yoongi /Suga
-Park Jimin
-Kim Seokjin
-Jeon Jungkook *sementara masih dicoret :v*
-Cha Hakyeon
-Jung Taekwoon
.
‘Tentang si pinokio Suga yang bersin tiap kali berbohong dan Jimin yang merasa mengidap syndrome alice in wonderland sejak bertemu suga. Syndrome yang membuatnya merasa bahwa ia sedang ada di dunia dongeng.’
.
Chapter 2: MIN SUGA :D
.
“Jimin.. a-apa yang kau.. lakukan…?” Jimin memejamkan matanya erat saat mendengar desisan tak percaya dari ibunya. ‘Baiklah ibu. Ini waktunya.’ Batin jimin sambil perlahan membuka matanya bersiap menerima setiap kata caci maki dari ibunya yang cerewet tersebut. “dengan sebuah BONEKA??!” Sentak hakyeon sambil memandang ngeri anak sematawayangnya. Ia tak menyangka bahwa kesendirian anaknya yang memang belum pernah berpacaran karena selalu ditolak oleh jeon jungkook tersebut menjadi suatu beban pikiran. Mungkin jimin sudah gila hingga mungkin berniat meng’hangati’ sebuah boneka pinokio manis dari kayu tersebut.
Dengan  gaya slow motion hakyeon memandang mata jimin miris. Tangannya terulur untuk mengelus surai hitam kelam milik jimin, tanpa memperdulikan jimin yang hanya melongo sambil memasang wajah bingung. “Ckck, maafkan ibu nak. Ibu selama ini tidak memperdulikanmu dan hanya terus memarahimu jimin.” ujarnya sambil mentikkan airmata kemudian lari-lari cantik keluar dari ruangan ini. Meninggalkan jimin yang masih bingung dengan perlakuan ibunya.
“Ibu kenapa sih? -_- Kenapa ia mengira aku melakukan hal aneh dengan- T-tunggu. Boneka?” ditengoknya pinokio di sebelahnya. Masih berwujud manusia. Kenapa hakyeon berpikir itu boneka? Ya mungkin itu masih menjadi misteri. Hanya pinokio dan tuhan yang tau. “Kau pasti bingung kan kenapa pria cantik itu mengira aku boneka? Aku memang sengaja berubah menjadi boneka saat dia datang. Agar dia tidak marah-marah lagi padamu. Hehe.” Ucapnya dengan wajah bangga –lagi-. Jimin menganggukkan kepalanya mengerti. Entah kenapa kali ini ia jadi lebih percaya pada sosok asing di hadapannya yang bernama,, Ah itu dia! Jimin bahkan  tidak tau namanya. “Hey, Kau. Boleh aku tau siapa namamu?” tanya jimin. “Aku.. tidak punya nama. Hanya saja dulu ada yang memanggilku pinokio jadi aku pikir itu namaku.” Jawabnya polos. “Jadi kau tidak punya nama ya?” Jimin menatap sebuah kalung yang terpatri di leher putih pinokio tersebut. Tanda Minus. “Ah! Aku pikir aku punya nama yang cocok untukmu. Karena liontin ini bertanda minus dan wajahmu yang manis. Aku akan memberimu nama Min Suga. Bukankah itu manis? Cocok denganmu. Suga manis. Like a sugar.” Ujar jimin. Tangannya memasang pose ceklis di bawah dagu. “Benarkah?? Jadi sekarang aku punya nama resmi? Suga? Namaku Suga?” Tanya Suga, si pemilik nama baru yang resmi -_-. “Ya. Suga. Jadi mari kita berkenalan. Anyeonghaseo. Namaku Park Jimin. Jimin.” ujar jimin sembari mengulurkan tangannya. “Min Suga! Suga!” dengan semangat suga membalas uluran tangan jimin. “Kkkk~ Baiklah Min Suga. Sekarang sudah larut malam. Waktunya tidur.” Ucap jimin sedikit terkikik. Ia kemudian menarik kembali selimutnya dan memejamkan matanya.
-Pinocchio-
Jimin hampir saja membenturkan kepalanya ke tembok di sebelah tempat duduknya saat matanya menangkap suga berdiri di depan kelasnya dengan seragam sekolah lengkap. “Anyeonghaseo, Min Suga imnida. Bangapta.” Salam suga sambil membungkukkan badannya ke arah barisan para murid yang duduk rapih di hadapannya. Semua orang nampaknya terpaku dengan kemanisan dan keimutan suga. Ya semua orang kecuali jimin yang justru memandang ngeri sosok suga yang masih tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya di depan sana. “Baik, Min Suga kau bisa duduk di depan sana di sebelah Seok- Kim Seokjin kemana?”  Boa seongsaenim memotong ucapannya saat mendapati kursi di pojok depan kelas kosong. Brakk! “Saem maaf aku terlambat. Ban mobilku sempat bocor jadi aku aku harus menaiki sepeda.” Pandangan seluruh isi kelas beralih pada sosok pria bersurai coklat di ambang pintu kelas yang nampak terengah-engah. Benar, seluruh isi kelas termasuk suga dan –lagi lagi- kecuali jimin yang malas menanggapi teman baiknya tersebut. “Maafkan aku seongsaenim.” Kim Seokjin –pria tersebut- mengulang kembali kata-katanya dan mengangkat wajahnya. Tubuhnya membeku saat melihat suga yang menatapnya dengan ekspresi polos. Seokjin memegang kepalanya. Rasa pusing yang amat sangat menerjang kepalanya saat role memory di otaknya terputar kembali. Ditatapnya kembali mata berwarna hazel milik suga. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk memastikan. Apakah dia adalah- “Yoon..gi?” -kekasihnya yang pernah ia,, bunuh.
-Pinocchio-
“Suga! Min Suga!” teriak jimin sambil menengok ke luar kelas mencari-cari dimana sosok mungil suga berada. “Suga! Shit dimana bocah itu? Kenapa dia pergi begitu saja? Padahal aku belum bertanya bagaimana ia bisa masuk ke sekolah ini. Hah, apa dia memang sasaeng fans ku? Dasar penguntit. Ck.” Ucapnya kesal kemudian melajukan langkah kaki-kaki setengah jenjang miliknya /:v/ ke arah penjuru barat sekolah. “Suga!” teriaknya lagi-lagi. Kali ini matanya bisa menangkap sosok suga sedang terduduk di bangku kantin. Jimin memegang lututnya sembari terengah-engah. “Jimin! Ada apa?” tanya suga dengan wajah penasaran dan sangat semangat. “Yak! Kau ini kenapa keluar begitu saja? Apa kau sen.. dengan seokjin hyung ya?” senyum jimin luntur ketika melihat seokjin yang tiba-tiba datang membawa 2 gelas milkshake dan duduk di hadapan suga. “Ah tidak jadi. Aku akan ke kelas duluan. Semoga makan siangmu menyenangkan suga, seokjin hyung.” Ucap jimin dan dengan malas ia memaksakan tubuhnya untuk berjalan kembali ke kelas.
Seokjin tersenyum kecil melihat tampang kesal jimin yang menjauh. “Kau sudah mengenal jimin? bukankah tadi dia tidak berkenalan denganmu?” seokjin memulai percakapan diantara keduanya. “Tentu aku mengenalnya. Dia yang membantuku bebas dari raga pinokio itu.” Jawab suga. “Pinokio? Apa maksudmu?” tanya seokjin bingung. “Aku dilahirkan sebagai sebuah boneka pinokio. Aku bisa berubah menjadi sosok manusiaku seperti saat ini. Tapi suatu saat ada sebuah berita buruk yang dibuat orang mengenai aku. Sehingga dewa menghukumku dan menjadikanku tidak bisa bebas kecuali ada seseorang yang berhasil aku ajak berkomunikasi. Akhirnya jimin menemukanku dan menolongku. Jadi aku fikir aku harus berbaik hati padanya.” Jelas suga panjang lebar sambil menggigiti sedotan hitam di hadapannya. “Benarkah? Kau sebuah boneka.. kayu? Lalu kenapa kau menceritakan semuanya kepadaku? Apa kau mempercayaiku?” Seokjin menatap suga yang mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis ke arah seokjin. “Kau juga bukan manusia. Aku merasakan aromamu dari dekat dan itu seperti.. serigala?” jawab suga dengan sedikit ragu. “Atau rubah ya? Anjing mungkin? Aish kenapa aku bisa tidak hafal bau-bau hewan!” lanjut suga dengan agak kesal membuat seokjin tersenyum kecil. “Serigala? Ternyata penciumanmu cukup bagus. Kau benar. Bisa aku bertanya berapa usiamu?” tanya seokjin sembari mengacak surai caramel suga. “Sekitar 352.” Seokjin membelalakkan matanya mendengar ucapan suga. ‘Apa dia memang reinkarnasinya? Yoongi meninggal 355 tahun yang lalu.’ Batin seokjin mengingat  berbagai memori di otaknya tentang yoongi. Tentang bagaimana ia membunuh yoongi. Tentang penyesalannya tentang hal tersebut. “Hm, begitukah? Kalau begitu aku lebih tua darimu. Aku 410 tahun. Kau bisa memanggilku ‘hyung’. Oke?” seokjin membalas ucapan suga dan kembali tersenyum. Mencoba menutupi segala sesuatu tentangnya.
-Pinocchio-
Jimin menengokkan kepalanya ke belakang saat merasa ada yang mengikutinya. “Hh, ternyata dia lagi.” Ucap jimin malas saat mendapati suga berjalan di belakangnya yang kini sedang berpura-pura menatap langit. “Benar-benar sasaeng fan sejati.” Lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya dengan gaya –sok- keren kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. /:v/. Ditengoknya kembali suga yang masih sedia di belakangnya yang kini pura-pura menangkap nyamuk. “Ck dia masih disana ya?” desis jimin. kakinya menendang-nendang kerikil di depannya.
Tes. “Hujan?” Jimin mendongakkan kepalanya saat merasa setetes air jatuh di atas hidungnya. “Ternyata benar-benar akan hujan.” Ucapnya. Hujan semakin deras dan membasahi sebagian tubuh jimin. “Ck Hujannya deras sekali.” Lirih jimin sembari berlari dan menjadikan tasnya sebagai pengganti payung. Setelah beberapa langkah ia berhenti dan kembali menengok ke arah belakang dimana suga justru terdiam disana. “Suga! Apa kau bodoh? Ayo pulang! Kau bisa sakit nanti! Cepat!” bentak jimin. tangan kirinya menarik tangan kanan suga. Keduanya berlari di bawah derasnya hujan dan udara dingin sore hari seoul. ‘Ini sangat manis. Aku menyukai moment seperti ini. Kyaaa! Bisakah aku berteriak sekarang?’ batin suga berteriak. Ia terus tersenyum. Matanya tidak bisa lepas dari wajah jimin yang basah dengan air hujan. Terlihat sangat serius dan.. um- ‘Sexy..’ –ya tentu saja jimin itu sexy. Walau tinggi badannya hanya 2 cm diatas suga yang berarti jimin itu juga pendek, /:v/ jimin tetaplah pria paling sexy di sekolahnya. ‘Aku berharap suatu saat bisa menjadi manusia yang sesungguhnya dan bisa berlarian di bawah hujan dengan orang aku cintai. Dan mungkin akan lebih baik jika orang itu..’ batin suga dengan senyum khasnya. “Jimin.” – “Ya?” Chuu~
-Pinocchio-
“Park Jimin! Ya tuhan.. Kau basah ku- Oh apa ini temanmu?” ucapan  khawatir hakyeon berubah menjadi sebuah pertanyaan saat melihat sesosok pria mungil dengan kulit putih pucat, bibir tipis, pipi  chubby yang memerah, mata hazel yang indah, dan surai berwarna caramel sedang berdiri di belakang jimin dengan kedua tangan memeluk tubuhnya yang basah. “Ne ibu. Namanya Min Suga. Dia akan menginap disini. Bolehkah?” jawab jimin. “Oh Tentu saja sayang~ Namanya suga kan? Mari masuk suga. Kau pasti kedinginan. Bibi akan menyiapkan air hangat untuk kau gunakan mandi.” Ucap hakyeon sembari menarik suga untuk memasuki rumah tersebut dan meninggalkan jimin yang kedinginan di  ambang pintu. “Bagaimana bisa dia seramah itu dengan si sasaeng fan sedangkan terus memarahiku karena hal-hal sepele. Wah aku sepertinya harus bertanya apakah dia benar-benar ibuku.” Ujar jimin menutup pintu dengan keras.
-Pinocchio-
Toktoktok! Jimin mendengus ketika mendengar irama ketukan- atau gedoran lebih tepatnya –yang berasal dari pintu kamarnya. Cklik. “Suga? Kenapa kau kesini?” jimin mengernyitkan dahinya melihat suga berdiri di ambang pintu kamarnya terlebih lagi dengan pakaian bermodel kucing berwarna bulu putih lengkap dengan telinga, kumis, dan.. ekor? Hell, Apa ibu jimin yang memberi pakaian aneh seperti itu pada suga?-_- Kekanakan sekali. “Bibi En menyuruhku tidur bersamamu. Hatchu~” Jawab suga melenggang masuk begitu saja. “Ah tidak tidak! Aku sudah membersihkan kamar tamunya. Tidurlah disana. Aku akan bilang pada Ibu.” Ujar jimin mencoba mengusir suga dari kamarnya. “Shireo! Suga mau disini. Bibi bilang suga tidak boleh tidur disana karena masih kotor dan suasananya seram. Ha-hatchu!” balas suga sambil memegangi hidungnya yang bergetar karena bersin. “Tidak! Keluar sekarang!” bentak jimin. “Sekarang min suga! Cepat atau-“ ucapan jimin terhenti ketika menatap mata hazel suga yang berubah menjadi biru. “Kau.. mati.” Desis suga sambil mengangkat tangannya ke arah jimin yang mematung kaget. “Ba-baiklah suga. Kau bisa tidur disini jika kau mau.” Jimin dengan cepat sambil memundurkan badannya menghindari tangan suga yang semakin dekat. Suga menghentikan pergerakan tangannya dan tersenyum cerah. Matanya kembali berwarna hazel dan nampak teduh. “Terimakasih jimin.” ujarnya.
“Hm, Suga.. bisa aku tau bagaimana kau mengubah warna mata se-seperti itu?” tanya jimin ragu. Nampaknya jimin sedikit melupakan tentang pertanyaannya yang tertunda tadi. “Karena aku bukan manusia.” Jawabnya tak acuh dengan tangan yang menggapai langit-langit kaca di kamar jimin dan berusaha menangkap sebuah bintang di atas sana. “Benar.. Kau memang pinokio. Baguslah. Ya luar biasa sekali. Ah ya, bagaimana kau bisa bersama seokjin hyung tadi?” wajah malas jimin berubah menjadi ekspresi penasaran saat mengingat suatu hal. Ck -_- dia benar-benar lupa. “Ah itu, saat kau memanggil namaku 23 kali tadi bukan?” tanya suga balik dengan tangan diacungkan ke atas. “Ya! Kalau memang tau kenapa hanya diam dan berbicara dengan jin hyung huh?! Kau cari mati ya?! Suaraku hampir hilang hanya untuk memanggil namamu saja.” Jimin membentak suga yang hanya tertawa kecil tanpa menatapnya. “Haha, maaf. Tapi aku terlalu asik dengan seokjin hyung. Dia seperti aku.” Balasnya. “Sepertimu? Jangan bilang bahwa dia pinokio juga! Dia itu manusia normal dan sempurna.” Sentak jimin menghalang suga untuk menjawab aneh-aneh. “Bukan. Dia bukan pinokio kayu sepertiku.” Jimin menghela nafas lega mendengarnya sebelum kembali mengernyitkan dahinya sembari menatap suga bingung saat suga bercerita bahwa.. “Seokjin hyung adalah serigala.” – “Huh?”
.
.
TBC :v
Elah chapter 1 banyak yang baca kagak ada yang komen :v kampret sedih gue :”v fufufu.*ngelap air mata* :’3 dying slowly :v eh jangan deh. *idup lagi* *nagih komen sambil lempar jamban sebagai ganti konfeti* :3 Btw, yang ‘CHUUU~’ itu adegan pas mereka kagak sengaja ciuman :v gara-gara jimin nengok ke samping pas suga nyebut namanya. :v cie kiss kiss kiss cie :v gue ama seokjin kapan? :3 *dilempar barbell ama jin* :v
Walau kalian Cuma baca tanpa meninggalkan secercah komen gakpapa lah :v chapter selanjutnya ada jungkook oy :v :v :v :v :v :v Moga" di chapter ini dan selanjutnya kalian gak cuma baca doang :v komen juga dong :3
Sekian terima nyai syuman :”3