PINOCCHIO
.
Story by:
Baek Gain
.
Genre:
Romance, Fantasy
.
Main Cast:
-Park Jimin
-Min Yoongi
-Kim Seokjin
-Jeon
Jungkook
-Cha Hakyeon
/Jimin Eommonim/
-Jung
Taekwoon /Mr. Park – Jimin Abeoji/
.
‘Tentang Min
Yoongi si Pinocchio yang bersin setiap berbohong dan Tentang Park Jimin yang
merasa mengidap syndrome alice in wonderland sejak bertemu yoongi. Syndrome
yang membuatnya merasa seperti dalam dongeng setiap matanya menangkap sosok
yoongi. Syndrome yang membuatnya.. tidak bisa keluar- dari dongeng itu.’
.
FF ini terinspirasi dari baju jimin
pas di mv war of hormone :’v
.
Chapter 1 :
The First Page
.
.
Awan-awan
yang lembut bak permen kapas mulai nampak di langit. Udara sejuk yang
mendamaikan jiwa. Bunga-bunga indah yang mulai bermekaran. Birunya langit menambah
keindahan hari penuh ketenangan ini. Kokokkan ayam mulai bersautan dengan merdu
beradu dengan cicitan burung-burung cantik. Di ufuk timur sang mentari telah
muncul dan menerangi pagi hari ini. Dalam tidurnya jimin mengulum senyum tip-
Tunggu, Kokokkan ayam? Pagi hari? Mentari? “PARK JIMIN BODOH!! BANGUN KAU!!
KELUAR DARI KAMAR LAKNATMU INI DAN PERGI KE SEKOLAHMU DASAR PENDEK!! CEPAT
BANGUN ATAU KUPOTONG UANG JAJANMU!” Kriinnggg. “Baik bu. Aku bersiap sebentar
lagi!” seru jimin membalas teriakan 4 oktaf ibunya Cha Hakyeon. Dengan malas
jimin menatap alarmnya yang ia taruh di meja. “Percuma saja kau berdering.
Alarm tua itu selalu mendahuluimu dengan ganas. Malang sekali nasibmu.” Ucap
jimin dengan nada kasihan sembari mengusap lembut alarm berwarna hitam
miliknya. “PARK JIMIN! CEPAT!!” Jimin terperangah mendengar suara ibunya untuk
kedua kalinya. Oh ini bukan pertanda baik. “Iya bu!” teriaknya sambil
cepat-cepat mencari seragam sekolahnya.
“Bu.. kenapa hanya 10.000? biaya bis kan
5.000. aku nanti makan apa disekolah?” rengek jimin. matanya menatap kosong
uang di tangannya. “SALAHMU BANGUN TERLAMBAT!” bentak hakyeon keras hingga
jimin memundurkan badannya secara refleks. “Uhukk. Berhentilah marah-marah N~
kau bisa cepat tua jika seperti itu.” Ujar Taekwoon lembut. “Be-benarkah? Apa
keriputku bertambah? Leo.. temani aku ke tempat spa akhir minggu ini.” Hakyeon
berujar lebay sambil menyentuh kulit wajahnya. “Tentu N ku sayang~” Jimin
menatap malas pemandangan menjijikkan di hadapannya. “Ayah, Ibu aku berangkat.”
Ujar jimin sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.
-Pinocchio-
“Sialan.”
Desis jimin pelan. Kakinya menyusuri sepanjang jalan dengan banyak gang ini.
“Ck menyedihkan sekali hidupku.” Ucapnya dengan wajah memelas. Ok mari kita
lihat kesialan apa saja yang menimpa jisung hari ini. Diteriaki ibunya di pagi
hari yang indah, Uang jajan dipotong 80%, Ketinggalan bus lalu harus menunggu
hingga setengah jam lagi, Diusir dari kelas, Kelaparan dan tanpa uang.
Wow, Sempurna sudah Park Jimin.
Kesialanmu sangat sempurna. “Aku bahkan harus pulang berjalan kaki. Hufft.
Menyebalkan seka- Hey apa yang ada disana?” mata jimin terfokus pada sebuah
boneka pinokio yang lucu memakai baju kemeja putih dan celana merah yang berada
diatas kursi taman di pinggir jalan tersebut. “Apa tidak ada yang punya? Aku
bawa pulang saja ya?” Ucapnya sambil memasukkan boneka kayu tersebut ke dalam
tas sekolahnya. Hey, Jangan berfikir bahwa jimin sudah belok dan gila. Dia
hanya merasa boneka ini sangat menggemaskan. Dengan kayu yang dicat putih pucat
serta poni yang menutupi dahi boneka tersebut membuatnya makin manis.
Munjawasseo~
‘From: Toa mushola
PARK JIMIN CEPAT PULANG! INI SUDAH
PUKUL 05.30 KENAPA BELUM PULANG?!’
“Heh
sudah kuduga dari nyonya cha hakyeon :3” ucap jimin malas. Ia melajukan kakinya
ke rumah yang ada 20 meter di depannya.
‘To: Toa mushola
Aku di depan rumah ibu.. Buka
gerbangnya -_-‘
Send~
-Pinocchio-
Jimin
menatap boneka pinokio di hadapannya dengan tatapan kosong. Tangannya mengusap
kemeja putih boneka tersebut. “Oh apa ini?” pekiknya saat merasa ada Sesuatu di
dalam kemeja putih tersebut. Sebuah kertas- Lebih tepatnya surat.
‘Hei anak muda. Bisa kau tekan tombol
merah di punggungku?-
“Ey
surat macam apa ini. Apa ini boneka dari salah satu fans ku di sekolah?”
Berhenti mengoceh dan tekan saja
“B-bagaimana
bisa ada tulisan ini? Tad.. tadi hanya ada sebaris kalimat.. J-jangan-jangan..”
Bisa cepat? Sebelum aku memakanmu.’
Klik.
Dengan cepat jimin menekan tombol tersebut dan memundurkan badannya untuk
berjaga-jaga sekiranya jika ternyata boneka ini membawa pisau dan ingin
menusuknya.
1
detik.
2
detik.
3
detik.
“Ahahaha
tidak ada apa-apa ya? Syukurlah ternyata hanya iseng. Aku fikir ada yang
menerorku. Rasanya aku semakin paranoid saja. Sudahlah lebih baik aku tidur sebelum
toa masjid itu meneriakiku lagi.” Ujar jimin. Boneka pinokio-hasil temuan-nya
ia taruh di meja belajarnya sebelum ia mematikan lampu kamar dan menarik
selimutnya. Ia menatap atap bintang-bintang di langit lewat atap kacanya.
“Saatnya tidur! Selamat tidur Pinokio.” Ucapnya lirih.
-Pinocchio-
Jimin
memejamkan matanya rapat-rapat saat merasa sebuah cahaya terang mengganggu
tidurnya. ‘Ck, apa sudah pagi? Ah tidak mungkin. Pasti ibu sudah
membangunkanku.’ Batin jimin kembali menarik selimutnya ke atas. Srekk. Jimin
menggelengkan kepala saat merasa ada yang menarik selimutnya. Ia menarik
selimut berwarna hijaunya tersebut ke atas. ‘Eh? Kenapa tidak bisa?’ batinnya
bingung saat merasa ada yang menahan selimut jimin. Perlahan tapi pasti ia
membuka matanya. “Omo!” pekiknya tertahan saat mendapati ada sesuatu di
hadapannya. Ehm, salah. Lebih tepatnya seseorang. “Manis.” Ucap jimin sambil
menatap seseorang yang duduk di depannya dengan muka polos tersebut. Seorang
lelaki manis berkulit putih bersih, mata bulat yang lucu, badan ramping dan
menggunakan pakaian dengan kemeja yang tidak dikancingkan sama sekali. Cukup
untuk membuat manusia mimisan di tempat. Hm, Jimin misalnya. “Kau.. Siapa?”
tanya jimin sambil tersenyum manis tanpa memperdulikan darah yang menetes dari
hidungnya. “Aku? Aku Pinokio.” Jawabnya polos. Jimin menganggukkan kepalanya.
“Namamu Pinokio? Ya. Kau memang sangat menggemaskan sekali. Seperti pinokioku.
Bajumu, rambutmu, kulit putihmu- APA?! PINOKIO?!!” Ekspresi wajah Jimin berubah
saat menyadari sesuatu. Diliriknya bonekanya di meja. Tidak ada. “Yak! Apa kau
lupa denganku? Kan kau yang membantuku bebas, Park Jimin.” Orang yang menyebut
dirinya pinokio tersebut menonjok bahu jimin pelan. “B-bagaimana kau tau
namaku?” jimin memundurkan badannya. “Tentu aku tau. Saat kau membawaku pulang
pria cantik itu berteriak ‘park jimin kemana saja kau? Kamarmu sangat
berantakan! Cepat bersihkan.’ Jadi aku pikir itu namamu. Aku benar ya? Ah aku
memang sangat hebat.” Jawabnya dengan wajah bangga. “Kau gila kan? Apa kau
salah satu dari para sasaeng fans aneh di sekolahku? Apa sebegitu sukanya kau
hingga berpura-pura gila dan menguntitku seperti ini dan… dengan pakaian
seperti itu? Cepatlah pulang. Ibumu pasti mencarimu. Tidak baik pria manis
sepertimu berkeliaran di malam hari seperti ini. Cepat. Aku harus tidur.” Ujar
jimin mengangkat tangan membuat gesture mengusir pada ‘pinokio’ di hadapannya. Yang
diajak bicara hanya menundukkan wajahnya. “Aku tidak punya rumah. Aku juga
tidak punya keluarga! Karena aku ini pinokio boneka! Bukan manusia seperti
jimin. Karena jimin sudah membebaskan pinokio, maka pinokio akan menemanimu
bermain. Hehe.” ‘pinokio’ tersebut menampilkan senyumannya yang semanis gula
membuat kedua matanya menjadi hilang kala tersenyum. “Aku bukan anak kecil. Kau
tidak perlu menemaniku untuk bermain.” Balas jimin. ‘Kenapa dia terus-terusan
memanggil dirinya dengan pinokio? -_- apa dia tidak punya nama?’ batin jimin
dengan muka datar. “Tapi aku ingin melakukannya~ A-apa jimin tidak
menyukainya?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Bahkan ia sudah –“Hiks. Maaf~
HUWAAA! MAAFKAN AKU!!”-menangis. “Yak! J-jangan menangis. Baiklah kau boleh
bersamaku. Stt! Diam.” Jimin segera menutup mulut pinokionya menggunakan
telapak tangan. Jimin tersenyum lega saat tidak lagi mendengar isakan orang
‘agak’ aneh dihadapannya. “B-benarkah aku bisa.. tinggal denganmu?” tanyanya
dengan wajah memelas dan puppy eyes. “Shit.. O-oke. Kau bo-“ “Park Jimin kau
dengan siapa huh?” Jimin menenggak ludahnya keras saat mendengar suara cempreng
hakyeon yang memotong ucapannya. Cklek. Jantung jimin berdetak. Ia menarik
nafasnya dengan gugup. “Jimin, a-apa yang kau.. lakukan…” ucap hakyeon dengan
wajah kaget.
.
.
.
TBC :’v
