No silent readers! No!

JANGAN JADI SILENT READER PLEASE :v TAU GAK RASANYA ITU SAKIT :"v

Selasa, 26 Mei 2015

[chapter 1] Pinocchio


PINOCCHIO
.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Fantasy
.
Main Cast: -Park Jimin
-Min Yoongi
-Kim Seokjin
-Jeon Jungkook
-Cha Hakyeon /Jimin Eommonim/
-Jung Taekwoon /Mr. Park – Jimin Abeoji/
.
‘Tentang Min Yoongi si Pinocchio yang bersin setiap berbohong dan Tentang Park Jimin yang merasa mengidap syndrome alice in wonderland sejak bertemu yoongi. Syndrome yang membuatnya merasa seperti dalam dongeng setiap matanya menangkap sosok yoongi. Syndrome yang membuatnya.. tidak bisa keluar- dari dongeng itu.’
.
FF ini terinspirasi dari baju jimin pas di mv war of hormone :’v
.
Chapter 1 : The First Page
.
.
Awan-awan yang lembut bak permen kapas mulai nampak di langit. Udara sejuk yang mendamaikan jiwa. Bunga-bunga indah yang mulai bermekaran. Birunya langit menambah keindahan hari penuh ketenangan ini. Kokokkan ayam mulai bersautan dengan merdu beradu dengan cicitan burung-burung cantik. Di ufuk timur sang mentari telah muncul dan menerangi pagi hari ini. Dalam tidurnya jimin mengulum senyum tip- Tunggu, Kokokkan ayam? Pagi hari? Mentari? “PARK JIMIN BODOH!! BANGUN KAU!! KELUAR DARI KAMAR LAKNATMU INI DAN PERGI KE SEKOLAHMU DASAR PENDEK!! CEPAT BANGUN ATAU KUPOTONG UANG JAJANMU!” Kriinnggg. “Baik bu. Aku bersiap sebentar lagi!” seru jimin membalas teriakan 4 oktaf ibunya Cha Hakyeon. Dengan malas jimin menatap alarmnya yang ia taruh di meja. “Percuma saja kau berdering. Alarm tua itu selalu mendahuluimu dengan ganas. Malang sekali nasibmu.” Ucap jimin dengan nada kasihan sembari mengusap lembut alarm berwarna hitam miliknya. “PARK JIMIN! CEPAT!!” Jimin terperangah mendengar suara ibunya untuk kedua kalinya. Oh ini bukan pertanda baik. “Iya bu!” teriaknya sambil cepat-cepat mencari seragam sekolahnya.
 “Bu.. kenapa hanya 10.000? biaya bis kan 5.000. aku nanti makan apa disekolah?” rengek jimin. matanya menatap kosong uang di tangannya. “SALAHMU BANGUN TERLAMBAT!” bentak hakyeon keras hingga jimin memundurkan badannya secara refleks. “Uhukk. Berhentilah marah-marah N~ kau bisa cepat tua jika seperti itu.” Ujar Taekwoon lembut. “Be-benarkah? Apa keriputku bertambah? Leo.. temani aku ke tempat spa akhir minggu ini.” Hakyeon berujar lebay sambil menyentuh kulit wajahnya. “Tentu N ku sayang~” Jimin menatap malas pemandangan menjijikkan di hadapannya. “Ayah, Ibu aku berangkat.” Ujar jimin sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.
-Pinocchio-
“Sialan.” Desis jimin pelan. Kakinya menyusuri sepanjang jalan dengan banyak gang ini. “Ck menyedihkan sekali hidupku.” Ucapnya dengan wajah memelas. Ok mari kita lihat kesialan apa saja yang menimpa jisung hari ini. Diteriaki ibunya di pagi hari yang indah, Uang jajan dipotong 80%, Ketinggalan bus lalu harus menunggu hingga setengah jam lagi, Diusir dari kelas, Kelaparan dan tanpa uang. Wow,  Sempurna sudah Park Jimin. Kesialanmu sangat sempurna. “Aku bahkan harus pulang berjalan kaki. Hufft. Menyebalkan seka- Hey apa yang ada disana?” mata jimin terfokus pada sebuah boneka pinokio yang lucu memakai baju kemeja putih dan celana merah yang berada diatas kursi taman di pinggir jalan tersebut. “Apa tidak ada yang punya? Aku bawa pulang saja ya?” Ucapnya sambil memasukkan boneka kayu tersebut ke dalam tas sekolahnya. Hey, Jangan berfikir bahwa jimin sudah belok dan gila. Dia hanya merasa boneka ini sangat menggemaskan. Dengan kayu yang dicat putih pucat serta poni yang menutupi dahi boneka tersebut membuatnya makin manis.
Munjawasseo~
‘From: Toa mushola
PARK JIMIN CEPAT PULANG! INI SUDAH PUKUL 05.30 KENAPA BELUM PULANG?!’
“Heh sudah kuduga dari nyonya cha hakyeon :3” ucap jimin malas. Ia melajukan kakinya ke rumah yang ada 20 meter di depannya.
‘To: Toa mushola
Aku di depan rumah ibu.. Buka gerbangnya -_-‘
Send~

-Pinocchio-
Jimin menatap boneka pinokio di hadapannya dengan tatapan kosong. Tangannya mengusap kemeja putih boneka tersebut. “Oh apa ini?” pekiknya saat merasa ada Sesuatu di dalam kemeja putih tersebut. Sebuah kertas- Lebih tepatnya surat.
‘Hei anak muda. Bisa kau tekan tombol merah di punggungku?-
“Ey surat macam apa ini. Apa ini boneka dari salah satu fans ku di sekolah?”
Berhenti mengoceh dan tekan saja
“B-bagaimana bisa ada tulisan ini? Tad.. tadi hanya ada sebaris kalimat.. J-jangan-jangan..”
Bisa cepat? Sebelum aku memakanmu.’
Klik. Dengan cepat jimin menekan tombol tersebut dan memundurkan badannya untuk berjaga-jaga sekiranya jika ternyata boneka ini membawa pisau dan ingin menusuknya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
“Ahahaha tidak ada apa-apa ya? Syukurlah ternyata hanya iseng. Aku fikir ada yang menerorku. Rasanya aku semakin paranoid saja. Sudahlah lebih baik aku tidur sebelum toa masjid itu meneriakiku lagi.” Ujar jimin. Boneka pinokio-hasil temuan-nya ia taruh di meja belajarnya sebelum ia mematikan lampu kamar dan menarik selimutnya. Ia menatap atap bintang-bintang di langit lewat atap kacanya. “Saatnya tidur! Selamat tidur Pinokio.” Ucapnya lirih.
-Pinocchio-
Jimin memejamkan matanya rapat-rapat saat merasa sebuah cahaya terang mengganggu tidurnya. ‘Ck, apa sudah pagi? Ah tidak mungkin. Pasti ibu sudah membangunkanku.’ Batin jimin kembali menarik selimutnya ke atas. Srekk. Jimin menggelengkan kepala saat merasa ada yang menarik selimutnya. Ia menarik selimut berwarna hijaunya tersebut ke atas. ‘Eh? Kenapa tidak bisa?’ batinnya bingung saat merasa ada yang menahan selimut jimin. Perlahan tapi pasti ia membuka matanya. “Omo!” pekiknya tertahan saat mendapati ada sesuatu di hadapannya. Ehm, salah. Lebih tepatnya seseorang. “Manis.” Ucap jimin sambil menatap seseorang yang duduk di depannya dengan muka polos tersebut. Seorang lelaki manis berkulit putih bersih, mata bulat yang lucu, badan ramping dan menggunakan pakaian dengan kemeja yang tidak dikancingkan sama sekali. Cukup untuk membuat manusia mimisan di tempat. Hm, Jimin misalnya. “Kau.. Siapa?” tanya jimin sambil tersenyum manis tanpa memperdulikan darah yang menetes dari hidungnya. “Aku? Aku Pinokio.” Jawabnya polos. Jimin menganggukkan kepalanya. “Namamu Pinokio? Ya. Kau memang sangat menggemaskan sekali. Seperti pinokioku. Bajumu, rambutmu, kulit putihmu- APA?! PINOKIO?!!” Ekspresi wajah Jimin berubah saat menyadari sesuatu. Diliriknya bonekanya di meja. Tidak ada. “Yak! Apa kau lupa denganku? Kan kau yang membantuku bebas, Park Jimin.” Orang yang menyebut dirinya pinokio tersebut menonjok bahu jimin pelan. “B-bagaimana kau tau namaku?” jimin memundurkan badannya. “Tentu aku tau. Saat kau membawaku pulang pria cantik itu berteriak ‘park jimin kemana saja kau? Kamarmu sangat berantakan! Cepat bersihkan.’ Jadi aku pikir itu namamu. Aku benar ya? Ah aku memang sangat hebat.” Jawabnya dengan wajah bangga. “Kau gila kan? Apa kau salah satu dari para sasaeng fans aneh di sekolahku? Apa sebegitu sukanya kau hingga berpura-pura gila dan menguntitku seperti ini dan… dengan pakaian seperti itu? Cepatlah pulang. Ibumu pasti mencarimu. Tidak baik pria manis sepertimu berkeliaran di malam hari seperti ini. Cepat. Aku harus tidur.” Ujar jimin mengangkat tangan membuat gesture mengusir pada ‘pinokio’ di hadapannya. Yang diajak bicara hanya menundukkan wajahnya. “Aku tidak punya rumah. Aku juga tidak punya keluarga! Karena aku ini pinokio boneka! Bukan manusia seperti jimin. Karena jimin sudah membebaskan pinokio, maka pinokio akan menemanimu bermain. Hehe.” ‘pinokio’ tersebut menampilkan senyumannya yang semanis gula membuat kedua matanya menjadi hilang kala tersenyum. “Aku bukan anak kecil. Kau tidak perlu menemaniku untuk bermain.” Balas jimin. ‘Kenapa dia terus-terusan memanggil dirinya dengan pinokio? -_- apa dia tidak punya nama?’ batin jimin dengan muka datar. “Tapi aku ingin melakukannya~ A-apa jimin tidak menyukainya?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Bahkan ia sudah –“Hiks. Maaf~ HUWAAA! MAAFKAN AKU!!”-menangis. “Yak! J-jangan menangis. Baiklah kau boleh bersamaku. Stt! Diam.” Jimin segera menutup mulut pinokionya menggunakan telapak tangan. Jimin tersenyum lega saat tidak lagi mendengar isakan orang ‘agak’ aneh dihadapannya. “B-benarkah aku bisa.. tinggal denganmu?” tanyanya dengan wajah memelas dan puppy eyes. “Shit.. O-oke. Kau bo-“ “Park Jimin kau dengan siapa huh?” Jimin menenggak ludahnya keras saat mendengar suara cempreng hakyeon yang memotong ucapannya. Cklek. Jantung jimin berdetak. Ia menarik nafasnya dengan gugup. “Jimin, a-apa yang kau.. lakukan…” ucap hakyeon dengan wajah kaget.
.
.
.
TBC :’v
LEE SOOMAN
.
Hai hai hai. Ketemu lagi para silent reader :v . Kali ini gue pengen bahas tentang Lee sooman a.k.a ayah artis sm dan para jambaners salah gaul. Bapak jamban ini lahir pada 18 Juny tahun 52. Wekawekawekaweka udah tua yee? :v Kabarnya bapak sooman ini dulunya sekolah di america dan merintis karier sebagai singer di korea. Kariernya cukup bagus. Awal kariernya sih gak sebagus itu dan juga gak semulus paha jungkook bts. Tahun 71 dia mulai menjadi penyanyi kafe dan akhirnya pada tahun 80 akhirnya lee sooman berhasil debut secara resmi sebagai penyanyi. tahun 85 lee sooman baru membuat entertainment nya sendiri yaitu sm entertaiment.

Hebat juga ya Tetua para jambaners ini. Wah, memang luar biasa sekarang bisa sesukses ini. tepuk tangan dong buat lee sooman. kalian para pemuda pemudi indonesia semangat ya? kerja keras dong kayak lee sooman. Jangan cuma ngikutin sinetron aneh-aneh yang suka ngomongin darah suci gak jelas. sekian dan terima jamban.
Oh ya selamat ulang tahun buat Smtown Salah Gaul Grup!
#LoveSMEnt
oh ya lupa hashtag smtown salah gaul. :v
#WEPROUDTOBEGENKSMTOWNSALAHGAUL
#WEPROUDTOBEGENKSMTSG :v nah udah nih.
 

Senin, 25 Mei 2015

[Oneshoot] jar of heart - sasunaru yaoi


JAR OF HEART
.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Thriller, Suspense, Angst
.
Main Cast: -Uchiha Sasuke
                    -Uzumaki Naruto
.
Nb: Anggap aja kata yang di bold + italic itu semacem Flashback. FF ini dibuat berdasar inspirasi tentang lagu Christina perry – Jar of heart. Sekian.
.
.
Suara air yang menggema di dalam kamar mandi sudah tidak terdengar. Sasuke menopang berat tubuhnya menggunakan kedua lengan kekarnya yang ia letakkan pada sisi wastafel. Ia menatap pantulan kaca wajahnya yang terbilas air. Ia mengusap kasar permukaan kulitnya tersebut. Mata onyxnya menajam dan tangan-tangannya mencengkram sisi wastafel dengan sangat kuat. Ia kembali teringat memorinya tentang hal yang terjadi jam yang lalu.
PRANGGG! Pecahan-pecahan kaca mengisi ruangan tersebut saat Sasuke dengan kasar memukul cermin kamar mandi tersebut. Ia menangkup wajahnya saat merasa aliran anak sungai meluncur dari mata kelamnya menuju pipi tirusnya yang terbalut kulit pucat itu. Emosinya sangat tidak terkontrol. Bahkan suaranya terasa tercekat. Seperti ada batu-batu kerikil yang bersemayam disana. Dadanya sesak dan jantungnya berdetak keras.
Ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar mandi. Ia melajukan langkahnya dan masuk ke dalam kamar. Bukan kamarnya. Lebih tepatnya milik orang yang dicintainya. Naruto Uzumaki.  Ia menatap makhluk bersurai pirang yang sedang pingsan tersebut. Pandangannya melembut saat sang Uzumaki membuka mata biru saphirenya. Manis. Seketika ekspresinya mengeras. Senyumannya hilang berganti dengan smirk yang menyeramkan.
“Sa-sasuke! Apa yang kau lakukan? Pergi!! Aku membencimu!” teriak naruto marah dan frustasi. Sebutir liquid menetes dari matanya yang sembab. “Waaah~ ada apa naruto? Apa kau ingin melihat proses kematian Hinata lagi? Kalau memang begitu aku punya rekamannya.” ucap sasuke sinis.
“A-aku.. aku fikir kita cukup sampai disini saja Sasuke. Aku baru sadar rasa sukaku padamu hanya sebatas kagum antar sesama teman. Aku straight Sasuke. Aku minta maaf.” Ujar naruto pada sasuke. Tangan kirinya menggenggam tangan seorang gadis bermata lavender dengan surai indigo. “APA MAKSUDMU?! KAU MAU MEMPERMALUKANKU HUH?! JIKA KAU TIDAK MENYUKAI UNTUK APA SELAMA INI KAU BERSIKAP MANIS?” bentak sasuke keras. Mengabaikan pandangan seisi sekolah padanya. “A-aku.. tidak t-tau.. sasuke. Aku hanya merasa senang saja. Tapi perasaanku berubah sejak aku mengenal hinata.” Jawab naruto. “Begitukah? Oh baguslah. Selamat.” Ucap sasuke. Kakinya ia langkahkan untuk meninggalkan naruto yang masih terdiam dan menunduk.
“TIDAK!! AKU MEMBENCIMU!! KAU GILA!! PSIKOPAT!! Hikss.” Tangis naruto meledak. “Jika aku harus menjadi psikopat gila untuk mendapatkanmu, maka aku akan melakukannya. Kau tau? Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Bahkan dari akal sehatku.”
“Sa-sasuke..” lirih naruto saat memasuki apartementnya. Matanya membelalak. “Hi. Aku akan memasakkanmu soup daging hari ini. Semoga kau suka.” Desis sasuke menunjukkan smirknya. Sasuke menyobek perut gadis di hadapannya dan menarik usus-usus serta isi perut lainnya. “APA YANG KAU LAKUKAN PADA HINATA??!!” Teriak naruto. Tangannya terkepal keras. Jika bisa, dia ingin memukul pria di hadapannya ini. Namun dia tidak ingin mati di tangan kotor sasuke. “Aku? Ck, Baka-dobe. Bukankah aku sudah bilang? Aku akan memasak soup daging untukmu. daging dan sedikit usus mungkin akan enak jika disajikan dengan ramen kesukaanmu. Iyakan?” ujar sasuke tanpa melirik naruto. Matanya masih terfokus pada gadis bersurai indigo di depannya. Ia menarik pisaunya dari lambung hinata. Mencabik-cabik tubuh ringkih yang berlumuran darah tersebut.. Kemudian menancapkan pisaunya di mata hinata dan menarik kedua bola mata lavender itu hingga keluar dari rongganya yang kini mengeluarkan banyak darah. Sasuke tersenyum puas melihat hasil karyanya. “Bukankah dia cantik? HAHAHAHAHAHAHAHAHA.”
“Tidak! Tidak! Kau tidak mencintaiku! Kau hanya merasa rakus dan terobsesi! Cinta tidak seperti ini!” sergah naruto. Sasuke mendekati naruto yang masih menangis dan ketakutan. “Cinta memang seperti ini.” Ujar sasuke lembut. “Rakus dan Gila!!” bentaknya kasar. Ia menarik dagu naruto dan mencengkramnya keras. Kemudian melumat bibir merah naruto kasar. Mata onyx sasuke menjadi makin kelam, penuh benci dan berubah merah penuh amarah. “Hmmmpppt!!” naruto mencoba berteriak saat sasuke menusuk pundaknya dengan sebuah pisau kecil. Darah mengalir dari pundak kanannya bersamaan dengan setetes airmatanya yang jatuh ke mata Sasuke. Membuat sasuke membuka matanya dan terdiam sebentar. Senyum setan sasuke kembali nampak. Ia mengambil beberapa kunai dari saku bajunya. Ditancapkannya sebuah kunai pada masing-masing telapak tangan naruto. “Aaaarrggh!” jerit naruto. Sasuke mengelus surai pirang naruto. “Aku harus memberimu pelajaran sayang.” Bisik sasuke sambil menarik rambut naruto hingga beberapa helai pirang itu rontok di tangan sasuke. Duakk! Sasuke membenturkan kepala naruto ke dinding di belakangnya. “Hentikan sasuke! Sa-sakit.” Desis naruto kesakitan. Dahinya yang berdarah menutupi pandangan matanya. Dengan penglihatan minim ia masih bisa melihat seringaian lebar sasuke. “Sakit? Bukankah itu bagus?” tanya sasuke. Tangannya diayunkan ke punggung naruto. Menancapkan pisau pada punggung pria di hadapannya. “S-sa.. sakit. S-sa..suk-ke.” Ujar naruto dengan terbata-bata saat merasa goresan pisau di punggungnya semakin melebar. Naruto pingsan. Dia sudah tidak kuat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sasuke tersenyum melihat naruto yang sudah tidak sadarkan diri. Namun ia belum puas. Belum! Rasa sakit dan kecewa pada naruto masih menggrogoti hatinya. Sasuke menusuk perut naruto dengan brutal. Kemudian tangannya beralih pada  tenggorokkan naruto. Sasuke menancapkan pisau tepat di pembuluh darah naruto dan menyobeknya. Sasuke menarik pisaunya hingga ke dada naruto dan membelahnya hingga organ-organ dalam naruto nampak dibalik sobekan daging tersebut. Sasuke memasukkan tangannya mencari-cari sebuah organ milik naruto. Dapat! Ini dia! Hati milik naruto, yang sudah menyakitinya. Sasuke tersenyum puas. Ia merasa senang saat ini. Ia menarik hati tersebut hingga beberapa urat dan syaraf terlepas. Sasuke mengambil toples kaca di meja naruto. Membuang isinya dan mengisi kembali toples kaca tersebut menggunakan hati naruto. “Terimakasih naruto. Kini aku merasa aku sudah memiliki hatimu sepenuhnya dan hatimu akan ku simpan selamanya. Takkan ku biarkan seorangpun memilikinya.”
“Aku mencintaimu sasuke. Hatiku milikmu. Hanya kau.” Ucap naruto sembari mengalungkan tangannya pada perpotongan leher sasuke. “Aku juga mencintaimu. Dan tentu saja hatimu hanya milikmu. Hanya milikku. Bahkan saat kau mati. Berjanjilah.” Jawab sasuke dengan nada serius. Naruto tersenyum.  “Ya. Aku berjanji.”
.
.
.
selesaiii. :v maap gaje. yang baca harus komen. :v gak komen paginya mencret lho entar :'v #piss

Cuap-cuap pertama :'v

Hai hai hai. Baek hanggul here. :v Blog kagak penting ini dibuat karena gue adalah author ff baru yang dulunya silent reader sejati :v Silahkan berkunjung dan ikutin ini blog gak penting. Gaje kagak apa. yang penting yangg digoyang digoyanggg yaaaanngg~ mantap ah susunya :'v /?/ sekian terima luhan. /sodorin ikan/