No silent readers! No!

JANGAN JADI SILENT READER PLEASE :v TAU GAK RASANYA ITU SAKIT :"v

Kamis, 04 Juni 2015

[Chapter 2] Pinocchio

PINOCCHIO
.

.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Fantasy
.
Main Cast: -Min Yoongi /Suga
-Park Jimin
-Kim Seokjin
-Jeon Jungkook *sementara masih dicoret :v*
-Cha Hakyeon
-Jung Taekwoon
.
‘Tentang si pinokio Suga yang bersin tiap kali berbohong dan Jimin yang merasa mengidap syndrome alice in wonderland sejak bertemu suga. Syndrome yang membuatnya merasa bahwa ia sedang ada di dunia dongeng.’
.
Chapter 2: MIN SUGA :D
.
“Jimin.. a-apa yang kau.. lakukan…?” Jimin memejamkan matanya erat saat mendengar desisan tak percaya dari ibunya. ‘Baiklah ibu. Ini waktunya.’ Batin jimin sambil perlahan membuka matanya bersiap menerima setiap kata caci maki dari ibunya yang cerewet tersebut. “dengan sebuah BONEKA??!” Sentak hakyeon sambil memandang ngeri anak sematawayangnya. Ia tak menyangka bahwa kesendirian anaknya yang memang belum pernah berpacaran karena selalu ditolak oleh jeon jungkook tersebut menjadi suatu beban pikiran. Mungkin jimin sudah gila hingga mungkin berniat meng’hangati’ sebuah boneka pinokio manis dari kayu tersebut.
Dengan  gaya slow motion hakyeon memandang mata jimin miris. Tangannya terulur untuk mengelus surai hitam kelam milik jimin, tanpa memperdulikan jimin yang hanya melongo sambil memasang wajah bingung. “Ckck, maafkan ibu nak. Ibu selama ini tidak memperdulikanmu dan hanya terus memarahimu jimin.” ujarnya sambil mentikkan airmata kemudian lari-lari cantik keluar dari ruangan ini. Meninggalkan jimin yang masih bingung dengan perlakuan ibunya.
“Ibu kenapa sih? -_- Kenapa ia mengira aku melakukan hal aneh dengan- T-tunggu. Boneka?” ditengoknya pinokio di sebelahnya. Masih berwujud manusia. Kenapa hakyeon berpikir itu boneka? Ya mungkin itu masih menjadi misteri. Hanya pinokio dan tuhan yang tau. “Kau pasti bingung kan kenapa pria cantik itu mengira aku boneka? Aku memang sengaja berubah menjadi boneka saat dia datang. Agar dia tidak marah-marah lagi padamu. Hehe.” Ucapnya dengan wajah bangga –lagi-. Jimin menganggukkan kepalanya mengerti. Entah kenapa kali ini ia jadi lebih percaya pada sosok asing di hadapannya yang bernama,, Ah itu dia! Jimin bahkan  tidak tau namanya. “Hey, Kau. Boleh aku tau siapa namamu?” tanya jimin. “Aku.. tidak punya nama. Hanya saja dulu ada yang memanggilku pinokio jadi aku pikir itu namaku.” Jawabnya polos. “Jadi kau tidak punya nama ya?” Jimin menatap sebuah kalung yang terpatri di leher putih pinokio tersebut. Tanda Minus. “Ah! Aku pikir aku punya nama yang cocok untukmu. Karena liontin ini bertanda minus dan wajahmu yang manis. Aku akan memberimu nama Min Suga. Bukankah itu manis? Cocok denganmu. Suga manis. Like a sugar.” Ujar jimin. Tangannya memasang pose ceklis di bawah dagu. “Benarkah?? Jadi sekarang aku punya nama resmi? Suga? Namaku Suga?” Tanya Suga, si pemilik nama baru yang resmi -_-. “Ya. Suga. Jadi mari kita berkenalan. Anyeonghaseo. Namaku Park Jimin. Jimin.” ujar jimin sembari mengulurkan tangannya. “Min Suga! Suga!” dengan semangat suga membalas uluran tangan jimin. “Kkkk~ Baiklah Min Suga. Sekarang sudah larut malam. Waktunya tidur.” Ucap jimin sedikit terkikik. Ia kemudian menarik kembali selimutnya dan memejamkan matanya.
-Pinocchio-
Jimin hampir saja membenturkan kepalanya ke tembok di sebelah tempat duduknya saat matanya menangkap suga berdiri di depan kelasnya dengan seragam sekolah lengkap. “Anyeonghaseo, Min Suga imnida. Bangapta.” Salam suga sambil membungkukkan badannya ke arah barisan para murid yang duduk rapih di hadapannya. Semua orang nampaknya terpaku dengan kemanisan dan keimutan suga. Ya semua orang kecuali jimin yang justru memandang ngeri sosok suga yang masih tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya di depan sana. “Baik, Min Suga kau bisa duduk di depan sana di sebelah Seok- Kim Seokjin kemana?”  Boa seongsaenim memotong ucapannya saat mendapati kursi di pojok depan kelas kosong. Brakk! “Saem maaf aku terlambat. Ban mobilku sempat bocor jadi aku aku harus menaiki sepeda.” Pandangan seluruh isi kelas beralih pada sosok pria bersurai coklat di ambang pintu kelas yang nampak terengah-engah. Benar, seluruh isi kelas termasuk suga dan –lagi lagi- kecuali jimin yang malas menanggapi teman baiknya tersebut. “Maafkan aku seongsaenim.” Kim Seokjin –pria tersebut- mengulang kembali kata-katanya dan mengangkat wajahnya. Tubuhnya membeku saat melihat suga yang menatapnya dengan ekspresi polos. Seokjin memegang kepalanya. Rasa pusing yang amat sangat menerjang kepalanya saat role memory di otaknya terputar kembali. Ditatapnya kembali mata berwarna hazel milik suga. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk memastikan. Apakah dia adalah- “Yoon..gi?” -kekasihnya yang pernah ia,, bunuh.
-Pinocchio-
“Suga! Min Suga!” teriak jimin sambil menengok ke luar kelas mencari-cari dimana sosok mungil suga berada. “Suga! Shit dimana bocah itu? Kenapa dia pergi begitu saja? Padahal aku belum bertanya bagaimana ia bisa masuk ke sekolah ini. Hah, apa dia memang sasaeng fans ku? Dasar penguntit. Ck.” Ucapnya kesal kemudian melajukan langkah kaki-kaki setengah jenjang miliknya /:v/ ke arah penjuru barat sekolah. “Suga!” teriaknya lagi-lagi. Kali ini matanya bisa menangkap sosok suga sedang terduduk di bangku kantin. Jimin memegang lututnya sembari terengah-engah. “Jimin! Ada apa?” tanya suga dengan wajah penasaran dan sangat semangat. “Yak! Kau ini kenapa keluar begitu saja? Apa kau sen.. dengan seokjin hyung ya?” senyum jimin luntur ketika melihat seokjin yang tiba-tiba datang membawa 2 gelas milkshake dan duduk di hadapan suga. “Ah tidak jadi. Aku akan ke kelas duluan. Semoga makan siangmu menyenangkan suga, seokjin hyung.” Ucap jimin dan dengan malas ia memaksakan tubuhnya untuk berjalan kembali ke kelas.
Seokjin tersenyum kecil melihat tampang kesal jimin yang menjauh. “Kau sudah mengenal jimin? bukankah tadi dia tidak berkenalan denganmu?” seokjin memulai percakapan diantara keduanya. “Tentu aku mengenalnya. Dia yang membantuku bebas dari raga pinokio itu.” Jawab suga. “Pinokio? Apa maksudmu?” tanya seokjin bingung. “Aku dilahirkan sebagai sebuah boneka pinokio. Aku bisa berubah menjadi sosok manusiaku seperti saat ini. Tapi suatu saat ada sebuah berita buruk yang dibuat orang mengenai aku. Sehingga dewa menghukumku dan menjadikanku tidak bisa bebas kecuali ada seseorang yang berhasil aku ajak berkomunikasi. Akhirnya jimin menemukanku dan menolongku. Jadi aku fikir aku harus berbaik hati padanya.” Jelas suga panjang lebar sambil menggigiti sedotan hitam di hadapannya. “Benarkah? Kau sebuah boneka.. kayu? Lalu kenapa kau menceritakan semuanya kepadaku? Apa kau mempercayaiku?” Seokjin menatap suga yang mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis ke arah seokjin. “Kau juga bukan manusia. Aku merasakan aromamu dari dekat dan itu seperti.. serigala?” jawab suga dengan sedikit ragu. “Atau rubah ya? Anjing mungkin? Aish kenapa aku bisa tidak hafal bau-bau hewan!” lanjut suga dengan agak kesal membuat seokjin tersenyum kecil. “Serigala? Ternyata penciumanmu cukup bagus. Kau benar. Bisa aku bertanya berapa usiamu?” tanya seokjin sembari mengacak surai caramel suga. “Sekitar 352.” Seokjin membelalakkan matanya mendengar ucapan suga. ‘Apa dia memang reinkarnasinya? Yoongi meninggal 355 tahun yang lalu.’ Batin seokjin mengingat  berbagai memori di otaknya tentang yoongi. Tentang bagaimana ia membunuh yoongi. Tentang penyesalannya tentang hal tersebut. “Hm, begitukah? Kalau begitu aku lebih tua darimu. Aku 410 tahun. Kau bisa memanggilku ‘hyung’. Oke?” seokjin membalas ucapan suga dan kembali tersenyum. Mencoba menutupi segala sesuatu tentangnya.
-Pinocchio-
Jimin menengokkan kepalanya ke belakang saat merasa ada yang mengikutinya. “Hh, ternyata dia lagi.” Ucap jimin malas saat mendapati suga berjalan di belakangnya yang kini sedang berpura-pura menatap langit. “Benar-benar sasaeng fan sejati.” Lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya dengan gaya –sok- keren kemudian kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. /:v/. Ditengoknya kembali suga yang masih sedia di belakangnya yang kini pura-pura menangkap nyamuk. “Ck dia masih disana ya?” desis jimin. kakinya menendang-nendang kerikil di depannya.
Tes. “Hujan?” Jimin mendongakkan kepalanya saat merasa setetes air jatuh di atas hidungnya. “Ternyata benar-benar akan hujan.” Ucapnya. Hujan semakin deras dan membasahi sebagian tubuh jimin. “Ck Hujannya deras sekali.” Lirih jimin sembari berlari dan menjadikan tasnya sebagai pengganti payung. Setelah beberapa langkah ia berhenti dan kembali menengok ke arah belakang dimana suga justru terdiam disana. “Suga! Apa kau bodoh? Ayo pulang! Kau bisa sakit nanti! Cepat!” bentak jimin. tangan kirinya menarik tangan kanan suga. Keduanya berlari di bawah derasnya hujan dan udara dingin sore hari seoul. ‘Ini sangat manis. Aku menyukai moment seperti ini. Kyaaa! Bisakah aku berteriak sekarang?’ batin suga berteriak. Ia terus tersenyum. Matanya tidak bisa lepas dari wajah jimin yang basah dengan air hujan. Terlihat sangat serius dan.. um- ‘Sexy..’ –ya tentu saja jimin itu sexy. Walau tinggi badannya hanya 2 cm diatas suga yang berarti jimin itu juga pendek, /:v/ jimin tetaplah pria paling sexy di sekolahnya. ‘Aku berharap suatu saat bisa menjadi manusia yang sesungguhnya dan bisa berlarian di bawah hujan dengan orang aku cintai. Dan mungkin akan lebih baik jika orang itu..’ batin suga dengan senyum khasnya. “Jimin.” – “Ya?” Chuu~
-Pinocchio-
“Park Jimin! Ya tuhan.. Kau basah ku- Oh apa ini temanmu?” ucapan  khawatir hakyeon berubah menjadi sebuah pertanyaan saat melihat sesosok pria mungil dengan kulit putih pucat, bibir tipis, pipi  chubby yang memerah, mata hazel yang indah, dan surai berwarna caramel sedang berdiri di belakang jimin dengan kedua tangan memeluk tubuhnya yang basah. “Ne ibu. Namanya Min Suga. Dia akan menginap disini. Bolehkah?” jawab jimin. “Oh Tentu saja sayang~ Namanya suga kan? Mari masuk suga. Kau pasti kedinginan. Bibi akan menyiapkan air hangat untuk kau gunakan mandi.” Ucap hakyeon sembari menarik suga untuk memasuki rumah tersebut dan meninggalkan jimin yang kedinginan di  ambang pintu. “Bagaimana bisa dia seramah itu dengan si sasaeng fan sedangkan terus memarahiku karena hal-hal sepele. Wah aku sepertinya harus bertanya apakah dia benar-benar ibuku.” Ujar jimin menutup pintu dengan keras.
-Pinocchio-
Toktoktok! Jimin mendengus ketika mendengar irama ketukan- atau gedoran lebih tepatnya –yang berasal dari pintu kamarnya. Cklik. “Suga? Kenapa kau kesini?” jimin mengernyitkan dahinya melihat suga berdiri di ambang pintu kamarnya terlebih lagi dengan pakaian bermodel kucing berwarna bulu putih lengkap dengan telinga, kumis, dan.. ekor? Hell, Apa ibu jimin yang memberi pakaian aneh seperti itu pada suga?-_- Kekanakan sekali. “Bibi En menyuruhku tidur bersamamu. Hatchu~” Jawab suga melenggang masuk begitu saja. “Ah tidak tidak! Aku sudah membersihkan kamar tamunya. Tidurlah disana. Aku akan bilang pada Ibu.” Ujar jimin mencoba mengusir suga dari kamarnya. “Shireo! Suga mau disini. Bibi bilang suga tidak boleh tidur disana karena masih kotor dan suasananya seram. Ha-hatchu!” balas suga sambil memegangi hidungnya yang bergetar karena bersin. “Tidak! Keluar sekarang!” bentak jimin. “Sekarang min suga! Cepat atau-“ ucapan jimin terhenti ketika menatap mata hazel suga yang berubah menjadi biru. “Kau.. mati.” Desis suga sambil mengangkat tangannya ke arah jimin yang mematung kaget. “Ba-baiklah suga. Kau bisa tidur disini jika kau mau.” Jimin dengan cepat sambil memundurkan badannya menghindari tangan suga yang semakin dekat. Suga menghentikan pergerakan tangannya dan tersenyum cerah. Matanya kembali berwarna hazel dan nampak teduh. “Terimakasih jimin.” ujarnya.
“Hm, Suga.. bisa aku tau bagaimana kau mengubah warna mata se-seperti itu?” tanya jimin ragu. Nampaknya jimin sedikit melupakan tentang pertanyaannya yang tertunda tadi. “Karena aku bukan manusia.” Jawabnya tak acuh dengan tangan yang menggapai langit-langit kaca di kamar jimin dan berusaha menangkap sebuah bintang di atas sana. “Benar.. Kau memang pinokio. Baguslah. Ya luar biasa sekali. Ah ya, bagaimana kau bisa bersama seokjin hyung tadi?” wajah malas jimin berubah menjadi ekspresi penasaran saat mengingat suatu hal. Ck -_- dia benar-benar lupa. “Ah itu, saat kau memanggil namaku 23 kali tadi bukan?” tanya suga balik dengan tangan diacungkan ke atas. “Ya! Kalau memang tau kenapa hanya diam dan berbicara dengan jin hyung huh?! Kau cari mati ya?! Suaraku hampir hilang hanya untuk memanggil namamu saja.” Jimin membentak suga yang hanya tertawa kecil tanpa menatapnya. “Haha, maaf. Tapi aku terlalu asik dengan seokjin hyung. Dia seperti aku.” Balasnya. “Sepertimu? Jangan bilang bahwa dia pinokio juga! Dia itu manusia normal dan sempurna.” Sentak jimin menghalang suga untuk menjawab aneh-aneh. “Bukan. Dia bukan pinokio kayu sepertiku.” Jimin menghela nafas lega mendengarnya sebelum kembali mengernyitkan dahinya sembari menatap suga bingung saat suga bercerita bahwa.. “Seokjin hyung adalah serigala.” – “Huh?”
.
.
TBC :v
Elah chapter 1 banyak yang baca kagak ada yang komen :v kampret sedih gue :”v fufufu.*ngelap air mata* :’3 dying slowly :v eh jangan deh. *idup lagi* *nagih komen sambil lempar jamban sebagai ganti konfeti* :3 Btw, yang ‘CHUUU~’ itu adegan pas mereka kagak sengaja ciuman :v gara-gara jimin nengok ke samping pas suga nyebut namanya. :v cie kiss kiss kiss cie :v gue ama seokjin kapan? :3 *dilempar barbell ama jin* :v
Walau kalian Cuma baca tanpa meninggalkan secercah komen gakpapa lah :v chapter selanjutnya ada jungkook oy :v :v :v :v :v :v Moga" di chapter ini dan selanjutnya kalian gak cuma baca doang :v komen juga dong :3
Sekian terima nyai syuman :”3

Selasa, 26 Mei 2015

[chapter 1] Pinocchio


PINOCCHIO
.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Fantasy
.
Main Cast: -Park Jimin
-Min Yoongi
-Kim Seokjin
-Jeon Jungkook
-Cha Hakyeon /Jimin Eommonim/
-Jung Taekwoon /Mr. Park – Jimin Abeoji/
.
‘Tentang Min Yoongi si Pinocchio yang bersin setiap berbohong dan Tentang Park Jimin yang merasa mengidap syndrome alice in wonderland sejak bertemu yoongi. Syndrome yang membuatnya merasa seperti dalam dongeng setiap matanya menangkap sosok yoongi. Syndrome yang membuatnya.. tidak bisa keluar- dari dongeng itu.’
.
FF ini terinspirasi dari baju jimin pas di mv war of hormone :’v
.
Chapter 1 : The First Page
.
.
Awan-awan yang lembut bak permen kapas mulai nampak di langit. Udara sejuk yang mendamaikan jiwa. Bunga-bunga indah yang mulai bermekaran. Birunya langit menambah keindahan hari penuh ketenangan ini. Kokokkan ayam mulai bersautan dengan merdu beradu dengan cicitan burung-burung cantik. Di ufuk timur sang mentari telah muncul dan menerangi pagi hari ini. Dalam tidurnya jimin mengulum senyum tip- Tunggu, Kokokkan ayam? Pagi hari? Mentari? “PARK JIMIN BODOH!! BANGUN KAU!! KELUAR DARI KAMAR LAKNATMU INI DAN PERGI KE SEKOLAHMU DASAR PENDEK!! CEPAT BANGUN ATAU KUPOTONG UANG JAJANMU!” Kriinnggg. “Baik bu. Aku bersiap sebentar lagi!” seru jimin membalas teriakan 4 oktaf ibunya Cha Hakyeon. Dengan malas jimin menatap alarmnya yang ia taruh di meja. “Percuma saja kau berdering. Alarm tua itu selalu mendahuluimu dengan ganas. Malang sekali nasibmu.” Ucap jimin dengan nada kasihan sembari mengusap lembut alarm berwarna hitam miliknya. “PARK JIMIN! CEPAT!!” Jimin terperangah mendengar suara ibunya untuk kedua kalinya. Oh ini bukan pertanda baik. “Iya bu!” teriaknya sambil cepat-cepat mencari seragam sekolahnya.
 “Bu.. kenapa hanya 10.000? biaya bis kan 5.000. aku nanti makan apa disekolah?” rengek jimin. matanya menatap kosong uang di tangannya. “SALAHMU BANGUN TERLAMBAT!” bentak hakyeon keras hingga jimin memundurkan badannya secara refleks. “Uhukk. Berhentilah marah-marah N~ kau bisa cepat tua jika seperti itu.” Ujar Taekwoon lembut. “Be-benarkah? Apa keriputku bertambah? Leo.. temani aku ke tempat spa akhir minggu ini.” Hakyeon berujar lebay sambil menyentuh kulit wajahnya. “Tentu N ku sayang~” Jimin menatap malas pemandangan menjijikkan di hadapannya. “Ayah, Ibu aku berangkat.” Ujar jimin sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.
-Pinocchio-
“Sialan.” Desis jimin pelan. Kakinya menyusuri sepanjang jalan dengan banyak gang ini. “Ck menyedihkan sekali hidupku.” Ucapnya dengan wajah memelas. Ok mari kita lihat kesialan apa saja yang menimpa jisung hari ini. Diteriaki ibunya di pagi hari yang indah, Uang jajan dipotong 80%, Ketinggalan bus lalu harus menunggu hingga setengah jam lagi, Diusir dari kelas, Kelaparan dan tanpa uang. Wow,  Sempurna sudah Park Jimin. Kesialanmu sangat sempurna. “Aku bahkan harus pulang berjalan kaki. Hufft. Menyebalkan seka- Hey apa yang ada disana?” mata jimin terfokus pada sebuah boneka pinokio yang lucu memakai baju kemeja putih dan celana merah yang berada diatas kursi taman di pinggir jalan tersebut. “Apa tidak ada yang punya? Aku bawa pulang saja ya?” Ucapnya sambil memasukkan boneka kayu tersebut ke dalam tas sekolahnya. Hey, Jangan berfikir bahwa jimin sudah belok dan gila. Dia hanya merasa boneka ini sangat menggemaskan. Dengan kayu yang dicat putih pucat serta poni yang menutupi dahi boneka tersebut membuatnya makin manis.
Munjawasseo~
‘From: Toa mushola
PARK JIMIN CEPAT PULANG! INI SUDAH PUKUL 05.30 KENAPA BELUM PULANG?!’
“Heh sudah kuduga dari nyonya cha hakyeon :3” ucap jimin malas. Ia melajukan kakinya ke rumah yang ada 20 meter di depannya.
‘To: Toa mushola
Aku di depan rumah ibu.. Buka gerbangnya -_-‘
Send~

-Pinocchio-
Jimin menatap boneka pinokio di hadapannya dengan tatapan kosong. Tangannya mengusap kemeja putih boneka tersebut. “Oh apa ini?” pekiknya saat merasa ada Sesuatu di dalam kemeja putih tersebut. Sebuah kertas- Lebih tepatnya surat.
‘Hei anak muda. Bisa kau tekan tombol merah di punggungku?-
“Ey surat macam apa ini. Apa ini boneka dari salah satu fans ku di sekolah?”
Berhenti mengoceh dan tekan saja
“B-bagaimana bisa ada tulisan ini? Tad.. tadi hanya ada sebaris kalimat.. J-jangan-jangan..”
Bisa cepat? Sebelum aku memakanmu.’
Klik. Dengan cepat jimin menekan tombol tersebut dan memundurkan badannya untuk berjaga-jaga sekiranya jika ternyata boneka ini membawa pisau dan ingin menusuknya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
“Ahahaha tidak ada apa-apa ya? Syukurlah ternyata hanya iseng. Aku fikir ada yang menerorku. Rasanya aku semakin paranoid saja. Sudahlah lebih baik aku tidur sebelum toa masjid itu meneriakiku lagi.” Ujar jimin. Boneka pinokio-hasil temuan-nya ia taruh di meja belajarnya sebelum ia mematikan lampu kamar dan menarik selimutnya. Ia menatap atap bintang-bintang di langit lewat atap kacanya. “Saatnya tidur! Selamat tidur Pinokio.” Ucapnya lirih.
-Pinocchio-
Jimin memejamkan matanya rapat-rapat saat merasa sebuah cahaya terang mengganggu tidurnya. ‘Ck, apa sudah pagi? Ah tidak mungkin. Pasti ibu sudah membangunkanku.’ Batin jimin kembali menarik selimutnya ke atas. Srekk. Jimin menggelengkan kepala saat merasa ada yang menarik selimutnya. Ia menarik selimut berwarna hijaunya tersebut ke atas. ‘Eh? Kenapa tidak bisa?’ batinnya bingung saat merasa ada yang menahan selimut jimin. Perlahan tapi pasti ia membuka matanya. “Omo!” pekiknya tertahan saat mendapati ada sesuatu di hadapannya. Ehm, salah. Lebih tepatnya seseorang. “Manis.” Ucap jimin sambil menatap seseorang yang duduk di depannya dengan muka polos tersebut. Seorang lelaki manis berkulit putih bersih, mata bulat yang lucu, badan ramping dan menggunakan pakaian dengan kemeja yang tidak dikancingkan sama sekali. Cukup untuk membuat manusia mimisan di tempat. Hm, Jimin misalnya. “Kau.. Siapa?” tanya jimin sambil tersenyum manis tanpa memperdulikan darah yang menetes dari hidungnya. “Aku? Aku Pinokio.” Jawabnya polos. Jimin menganggukkan kepalanya. “Namamu Pinokio? Ya. Kau memang sangat menggemaskan sekali. Seperti pinokioku. Bajumu, rambutmu, kulit putihmu- APA?! PINOKIO?!!” Ekspresi wajah Jimin berubah saat menyadari sesuatu. Diliriknya bonekanya di meja. Tidak ada. “Yak! Apa kau lupa denganku? Kan kau yang membantuku bebas, Park Jimin.” Orang yang menyebut dirinya pinokio tersebut menonjok bahu jimin pelan. “B-bagaimana kau tau namaku?” jimin memundurkan badannya. “Tentu aku tau. Saat kau membawaku pulang pria cantik itu berteriak ‘park jimin kemana saja kau? Kamarmu sangat berantakan! Cepat bersihkan.’ Jadi aku pikir itu namamu. Aku benar ya? Ah aku memang sangat hebat.” Jawabnya dengan wajah bangga. “Kau gila kan? Apa kau salah satu dari para sasaeng fans aneh di sekolahku? Apa sebegitu sukanya kau hingga berpura-pura gila dan menguntitku seperti ini dan… dengan pakaian seperti itu? Cepatlah pulang. Ibumu pasti mencarimu. Tidak baik pria manis sepertimu berkeliaran di malam hari seperti ini. Cepat. Aku harus tidur.” Ujar jimin mengangkat tangan membuat gesture mengusir pada ‘pinokio’ di hadapannya. Yang diajak bicara hanya menundukkan wajahnya. “Aku tidak punya rumah. Aku juga tidak punya keluarga! Karena aku ini pinokio boneka! Bukan manusia seperti jimin. Karena jimin sudah membebaskan pinokio, maka pinokio akan menemanimu bermain. Hehe.” ‘pinokio’ tersebut menampilkan senyumannya yang semanis gula membuat kedua matanya menjadi hilang kala tersenyum. “Aku bukan anak kecil. Kau tidak perlu menemaniku untuk bermain.” Balas jimin. ‘Kenapa dia terus-terusan memanggil dirinya dengan pinokio? -_- apa dia tidak punya nama?’ batin jimin dengan muka datar. “Tapi aku ingin melakukannya~ A-apa jimin tidak menyukainya?” tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Bahkan ia sudah –“Hiks. Maaf~ HUWAAA! MAAFKAN AKU!!”-menangis. “Yak! J-jangan menangis. Baiklah kau boleh bersamaku. Stt! Diam.” Jimin segera menutup mulut pinokionya menggunakan telapak tangan. Jimin tersenyum lega saat tidak lagi mendengar isakan orang ‘agak’ aneh dihadapannya. “B-benarkah aku bisa.. tinggal denganmu?” tanyanya dengan wajah memelas dan puppy eyes. “Shit.. O-oke. Kau bo-“ “Park Jimin kau dengan siapa huh?” Jimin menenggak ludahnya keras saat mendengar suara cempreng hakyeon yang memotong ucapannya. Cklek. Jantung jimin berdetak. Ia menarik nafasnya dengan gugup. “Jimin, a-apa yang kau.. lakukan…” ucap hakyeon dengan wajah kaget.
.
.
.
TBC :’v
LEE SOOMAN
.
Hai hai hai. Ketemu lagi para silent reader :v . Kali ini gue pengen bahas tentang Lee sooman a.k.a ayah artis sm dan para jambaners salah gaul. Bapak jamban ini lahir pada 18 Juny tahun 52. Wekawekawekaweka udah tua yee? :v Kabarnya bapak sooman ini dulunya sekolah di america dan merintis karier sebagai singer di korea. Kariernya cukup bagus. Awal kariernya sih gak sebagus itu dan juga gak semulus paha jungkook bts. Tahun 71 dia mulai menjadi penyanyi kafe dan akhirnya pada tahun 80 akhirnya lee sooman berhasil debut secara resmi sebagai penyanyi. tahun 85 lee sooman baru membuat entertainment nya sendiri yaitu sm entertaiment.

Hebat juga ya Tetua para jambaners ini. Wah, memang luar biasa sekarang bisa sesukses ini. tepuk tangan dong buat lee sooman. kalian para pemuda pemudi indonesia semangat ya? kerja keras dong kayak lee sooman. Jangan cuma ngikutin sinetron aneh-aneh yang suka ngomongin darah suci gak jelas. sekian dan terima jamban.
Oh ya selamat ulang tahun buat Smtown Salah Gaul Grup!
#LoveSMEnt
oh ya lupa hashtag smtown salah gaul. :v
#WEPROUDTOBEGENKSMTOWNSALAHGAUL
#WEPROUDTOBEGENKSMTSG :v nah udah nih.
 

Senin, 25 Mei 2015

[Oneshoot] jar of heart - sasunaru yaoi


JAR OF HEART
.
Story by: Baek Gain
.
Genre: Romance, Thriller, Suspense, Angst
.
Main Cast: -Uchiha Sasuke
                    -Uzumaki Naruto
.
Nb: Anggap aja kata yang di bold + italic itu semacem Flashback. FF ini dibuat berdasar inspirasi tentang lagu Christina perry – Jar of heart. Sekian.
.
.
Suara air yang menggema di dalam kamar mandi sudah tidak terdengar. Sasuke menopang berat tubuhnya menggunakan kedua lengan kekarnya yang ia letakkan pada sisi wastafel. Ia menatap pantulan kaca wajahnya yang terbilas air. Ia mengusap kasar permukaan kulitnya tersebut. Mata onyxnya menajam dan tangan-tangannya mencengkram sisi wastafel dengan sangat kuat. Ia kembali teringat memorinya tentang hal yang terjadi jam yang lalu.
PRANGGG! Pecahan-pecahan kaca mengisi ruangan tersebut saat Sasuke dengan kasar memukul cermin kamar mandi tersebut. Ia menangkup wajahnya saat merasa aliran anak sungai meluncur dari mata kelamnya menuju pipi tirusnya yang terbalut kulit pucat itu. Emosinya sangat tidak terkontrol. Bahkan suaranya terasa tercekat. Seperti ada batu-batu kerikil yang bersemayam disana. Dadanya sesak dan jantungnya berdetak keras.
Ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar mandi. Ia melajukan langkahnya dan masuk ke dalam kamar. Bukan kamarnya. Lebih tepatnya milik orang yang dicintainya. Naruto Uzumaki.  Ia menatap makhluk bersurai pirang yang sedang pingsan tersebut. Pandangannya melembut saat sang Uzumaki membuka mata biru saphirenya. Manis. Seketika ekspresinya mengeras. Senyumannya hilang berganti dengan smirk yang menyeramkan.
“Sa-sasuke! Apa yang kau lakukan? Pergi!! Aku membencimu!” teriak naruto marah dan frustasi. Sebutir liquid menetes dari matanya yang sembab. “Waaah~ ada apa naruto? Apa kau ingin melihat proses kematian Hinata lagi? Kalau memang begitu aku punya rekamannya.” ucap sasuke sinis.
“A-aku.. aku fikir kita cukup sampai disini saja Sasuke. Aku baru sadar rasa sukaku padamu hanya sebatas kagum antar sesama teman. Aku straight Sasuke. Aku minta maaf.” Ujar naruto pada sasuke. Tangan kirinya menggenggam tangan seorang gadis bermata lavender dengan surai indigo. “APA MAKSUDMU?! KAU MAU MEMPERMALUKANKU HUH?! JIKA KAU TIDAK MENYUKAI UNTUK APA SELAMA INI KAU BERSIKAP MANIS?” bentak sasuke keras. Mengabaikan pandangan seisi sekolah padanya. “A-aku.. tidak t-tau.. sasuke. Aku hanya merasa senang saja. Tapi perasaanku berubah sejak aku mengenal hinata.” Jawab naruto. “Begitukah? Oh baguslah. Selamat.” Ucap sasuke. Kakinya ia langkahkan untuk meninggalkan naruto yang masih terdiam dan menunduk.
“TIDAK!! AKU MEMBENCIMU!! KAU GILA!! PSIKOPAT!! Hikss.” Tangis naruto meledak. “Jika aku harus menjadi psikopat gila untuk mendapatkanmu, maka aku akan melakukannya. Kau tau? Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Bahkan dari akal sehatku.”
“Sa-sasuke..” lirih naruto saat memasuki apartementnya. Matanya membelalak. “Hi. Aku akan memasakkanmu soup daging hari ini. Semoga kau suka.” Desis sasuke menunjukkan smirknya. Sasuke menyobek perut gadis di hadapannya dan menarik usus-usus serta isi perut lainnya. “APA YANG KAU LAKUKAN PADA HINATA??!!” Teriak naruto. Tangannya terkepal keras. Jika bisa, dia ingin memukul pria di hadapannya ini. Namun dia tidak ingin mati di tangan kotor sasuke. “Aku? Ck, Baka-dobe. Bukankah aku sudah bilang? Aku akan memasak soup daging untukmu. daging dan sedikit usus mungkin akan enak jika disajikan dengan ramen kesukaanmu. Iyakan?” ujar sasuke tanpa melirik naruto. Matanya masih terfokus pada gadis bersurai indigo di depannya. Ia menarik pisaunya dari lambung hinata. Mencabik-cabik tubuh ringkih yang berlumuran darah tersebut.. Kemudian menancapkan pisaunya di mata hinata dan menarik kedua bola mata lavender itu hingga keluar dari rongganya yang kini mengeluarkan banyak darah. Sasuke tersenyum puas melihat hasil karyanya. “Bukankah dia cantik? HAHAHAHAHAHAHAHAHA.”
“Tidak! Tidak! Kau tidak mencintaiku! Kau hanya merasa rakus dan terobsesi! Cinta tidak seperti ini!” sergah naruto. Sasuke mendekati naruto yang masih menangis dan ketakutan. “Cinta memang seperti ini.” Ujar sasuke lembut. “Rakus dan Gila!!” bentaknya kasar. Ia menarik dagu naruto dan mencengkramnya keras. Kemudian melumat bibir merah naruto kasar. Mata onyx sasuke menjadi makin kelam, penuh benci dan berubah merah penuh amarah. “Hmmmpppt!!” naruto mencoba berteriak saat sasuke menusuk pundaknya dengan sebuah pisau kecil. Darah mengalir dari pundak kanannya bersamaan dengan setetes airmatanya yang jatuh ke mata Sasuke. Membuat sasuke membuka matanya dan terdiam sebentar. Senyum setan sasuke kembali nampak. Ia mengambil beberapa kunai dari saku bajunya. Ditancapkannya sebuah kunai pada masing-masing telapak tangan naruto. “Aaaarrggh!” jerit naruto. Sasuke mengelus surai pirang naruto. “Aku harus memberimu pelajaran sayang.” Bisik sasuke sambil menarik rambut naruto hingga beberapa helai pirang itu rontok di tangan sasuke. Duakk! Sasuke membenturkan kepala naruto ke dinding di belakangnya. “Hentikan sasuke! Sa-sakit.” Desis naruto kesakitan. Dahinya yang berdarah menutupi pandangan matanya. Dengan penglihatan minim ia masih bisa melihat seringaian lebar sasuke. “Sakit? Bukankah itu bagus?” tanya sasuke. Tangannya diayunkan ke punggung naruto. Menancapkan pisau pada punggung pria di hadapannya. “S-sa.. sakit. S-sa..suk-ke.” Ujar naruto dengan terbata-bata saat merasa goresan pisau di punggungnya semakin melebar. Naruto pingsan. Dia sudah tidak kuat merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sasuke tersenyum melihat naruto yang sudah tidak sadarkan diri. Namun ia belum puas. Belum! Rasa sakit dan kecewa pada naruto masih menggrogoti hatinya. Sasuke menusuk perut naruto dengan brutal. Kemudian tangannya beralih pada  tenggorokkan naruto. Sasuke menancapkan pisau tepat di pembuluh darah naruto dan menyobeknya. Sasuke menarik pisaunya hingga ke dada naruto dan membelahnya hingga organ-organ dalam naruto nampak dibalik sobekan daging tersebut. Sasuke memasukkan tangannya mencari-cari sebuah organ milik naruto. Dapat! Ini dia! Hati milik naruto, yang sudah menyakitinya. Sasuke tersenyum puas. Ia merasa senang saat ini. Ia menarik hati tersebut hingga beberapa urat dan syaraf terlepas. Sasuke mengambil toples kaca di meja naruto. Membuang isinya dan mengisi kembali toples kaca tersebut menggunakan hati naruto. “Terimakasih naruto. Kini aku merasa aku sudah memiliki hatimu sepenuhnya dan hatimu akan ku simpan selamanya. Takkan ku biarkan seorangpun memilikinya.”
“Aku mencintaimu sasuke. Hatiku milikmu. Hanya kau.” Ucap naruto sembari mengalungkan tangannya pada perpotongan leher sasuke. “Aku juga mencintaimu. Dan tentu saja hatimu hanya milikmu. Hanya milikku. Bahkan saat kau mati. Berjanjilah.” Jawab sasuke dengan nada serius. Naruto tersenyum.  “Ya. Aku berjanji.”
.
.
.
selesaiii. :v maap gaje. yang baca harus komen. :v gak komen paginya mencret lho entar :'v #piss